Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah gemerlap modernisasi Kota Surabaya, sebuah sudut bersejarah masih bertahan di Jalan Bratang Binangun. Pasar Nostalgia, yang menaungi 26 toko barang antik, menjadi destinasi unik bagi wisatawan dan pecinta koleksi kuno. Dari jam dinding, piringan hitam (vinyl), mesin ketik, pemantik api, hingga setrika arang dan album foto era Hindia Belanda, semua tersaji sebagai pengingat masa lalu.
Meski hanya buka pukul 13.00 hingga 18.00 WIB, pasar ini ramai dikunjungi, termasuk turis mancanegara yang berburu koleksi langka. Pasar antik ini mulai berdiri pada 2025, menempati bangunan tua yang masih kokoh meski kondisinya rapuh dan kurang terawat. Aroma kotoran tikus kerap tercium, menandakan perlu adanya perawatan lebih lanjut dari pihak terkait.
Salah satu pedagang yang dikenal ramah adalah Kuyen. Ia telah lama berjualan dan mengoleksi ratusan barang antik yang dipamerkannya dengan bangga. Salah satu koleksi andalan adalah jam dinding kayu asal Inggris tahun 1960-an yang berdering setiap 15 menit.
“Koleksi paling kuno ya jam ini, saya dapat pada tahun 2000-an. Ini jam diproduksi tahun 1960,” ujar Kuyen, Kamis (18/8/2025).
Kuyen bercerita, kecintaannya pada barang antik berawal dari hobi sejak SMA, saat ia mengumpulkan benda kecil seperti pemantik api dan lukisan. Kini, barang antiknya diperoleh dari teman sesama kolektor maupun orang yang ingin menjual koleksi milik pribadi.
Harga barang yang ditawarkan pun bervariasi, mulai Rp6.000 hingga puluhan juta rupiah. Selain pasar fisik, Kuyen juga aktif memasarkan koleksinya lewat media sosial dan pameran di luar kota, sehingga pembelinya datang dari berbagai daerah.
Salah satu pembeli yang diingatnya adalah seorang notaris muda asal Papua yang membeli mesin ketik besar untuk mendukung pekerjaannya.
“Mesin ketik masih banyak dicari notaris, terakhir ada pengiriman ke Papua,” ungkapnya.
Meski tidak bisa memastikan omzet bulanan, Kuyen menekankan bahwa setiap barang punya nilai cerita dan perjalanan panjang. Beberapa koleksi bahkan bertahan bertahun-tahun di tokonya sebelum akhirnya menemukan pembeli.
“Kadang kita jual mikirnya pasti cepat laku, ternyata enggak laku. Tapi nanti pasti laku entah satu-dua tahun ke depan. Kadang barang mau saya buang, ada aja yang nawar,” katanya sambil tertawa kecil.
Menurut Kuyen, tren boleh berganti, tetapi barang kuno tetap punya tempat khusus di hati kolektor maupun pelaku usaha kreatif.
“Barang-barang lama pasti laku. Apalagi kalau masih fungsional. Sekarang juga banyak kafe-kafe yang cari barang antik buat dekorasi,” ucapnya.
Pasar Nostalgia pun kian meneguhkan diri sebagai ruang pertemuan antara sejarah, hobi, dan peluang ekonomi, meski tantangan perawatan bangunan tua dan keberlanjutan pedagang masih membayangi. [rma/beq}






