Surabaya (beritajatim.com) – Pameran lukisan bertajuk “Gemah Ripah: A Solo Exhibition By Pardoli Fadli” di HadiArtPlatform Jl Darmokali 16 Surabaya, Jumat (25/10/2024), dibuka oleh Soesilo Efendy, Ketua BPOD REI Jatim. Direncanakan, pameran berlangsung sebulan penuh, yakni sampai 24 November 2024.
Irawan Hadikusumo dalam catatan kuratorial dijelaskan bahwa Pardoli Fadli, lahir tahun 1971. Pardoli Fadli adalah seniman Indonesia yang karyanya yang cemerlang menangkap esensi lanskap, warisan budaya, dan kehidupan sehari-hari Indonesia dengan indah. Lukisannya sering menampilkan hamparan sawah yang subur, pasar tradisional yang ramai, dan kekayaan budaya Indonesia.
Ia juga sering menggambarkan penari yang mengenakan kostum tradisional, tidak hanya saat tampil, tetapi juga terlibat dalam momen sehari-hari seperti mempersiapkan tarian atau berswafoto.
Melalui karya seninya, Pardoli menghargai berbagai elemen yang membuat Indonesia unik. Sawah memiliki tempat khusus dalam karya Pardoli, tidak hanya sebagai elemen visual tetapi juga sebagai simbol kelimpahan dan kemakmuran. Dalam budaya Indonesia, beras lebih dari sekadar makanan pokok; beras adalah fondasi mata pencaharian bangsa dan bagian penting dari identitas budayanya.

Bagi banyak orang Indonesia, beras adalah urat nadi yang menopang masyarakat, yang menjalin kehidupan dan tradisi yang tak terhitung jumlahnya dengan budidayanya. Musim panen dan pasar tradisional, yang sering digambarkan dalam lukisannya, melambangkan berkah dan rezeki.
Adegan-adegan ini menggambarkan doa bersama untuk kehidupan yang berlimpah, yang dijalin ke dalam ritme keseharian masyarakat Indonesia, yang mewujudkan semangat gemah ripah loh jinawi.
Frasa Jawa ini, yang diterjemahkan menjadi “berlimpah, makmur, dan harmonis,” merangkum keadaan ideal keseimbangan dan kesejahteraan baik dalam ranah fisik maupun spiritual. Frasa ini menekankan keterkaitan antara komunitas, alam, dan keilahian, yang menyoroti bagaimana lingkungan yang berkembang menumbuhkan masyarakat yang gembira dan harmonis.
Pardoli juga suka memasukkan landmark ikonik Indonesia seperti Borobudur, Prambanan, dan Pura Tanah Lot ke dalam latar belakang lukisannya.

Situs-situs ini tidak hanya bersifat dekoratif; mereka adalah tempat ibadah yang menonjolkan dimensi spiritual budaya Indonesia, yang memperkaya narasi seninya.
Lebih jauh, yang membuat karya Pardoli benar-benar istimewa adalah bagaimana ia melampaui penggambaran lanskap belaka dengan memasukkan kehidupan ke dalam adegan-adegannya. Misalnya, dalam lukisan sawahnya, ia menggambarkan para petani Indonesia yang sedang memanen padi dan berinteraksi, yang menunjukkan semangat komunitas dan kebersamaan dalam kehidupan pedesaan.
Demikian pula, pemandangan pasarnya menonjolkan “pasar basah” tradisional Indonesia dan pertukaran dinamis antara penjual dan pembeli.
Fokus pada kehidupan sehari-hari ini memberikan energi dan kegembiraan pada karyanya, membuat setiap lukisan terasa hidup dan penuh perayaan. Semangat dinamis seninya semakin diperkuat oleh palet warna cerah di seluruh karyanya, termasuk latar belakang lanskapnya yang semarak, rona kuning cerah yang mewakili padi yang siap dipanen, pakaian warna-warni yang dikenakan oleh para tokoh, buah-buahan dan sayuran berwarna-warni yang dipajang di pasar, dan objek lainnya.

Gaya Pardoli secara elegan memadukan unsur-unsur realisme dan naturalisme. Sementara karyanya secara autentik menggambarkan pemandangan sehari-hari, ia juga memiliki kualitas seperti mimpi yang mengundang pemirsa ke alam imajinatif.
Perpaduan unsur-unsur klasik dan kontemporer ini menciptakan narasi visual yang memikat yang beresonansi dalam dengan penonton. Pada akhirnya, seni Pardoli melampaui sekadar representasi; ini adalah penghormatan yang tulus kepada tanah airnya dan warisan budayanya yang kaya.

Melalui sapuan kuas yang cermat dan palet warna yang cerah, ia menangkap esensi Indonesia—masyarakatnya, tradisinya, dan hubungan yang harmonis antara alam dan masyarakat.
Karyanya mencerminkan rasa syukur tidak hanya atas hubungan antarmanusia tetapi juga atas penghargaan spiritual terhadap yang ilahi. Setiap karya mengajak pemirsa untuk membenamkan diri dalam keindahan dan semangat Indonesia, merayakan budaya dan semangatnya dalam setiap momen yang ia gambarkan. [but]






