Alexander Isak, pesepak bola asal Swedia di Liga Primer Inggris, memberikan panduan untuk membangkang. Dia berhasil memaksa Newcastle United untuk melepasnya ke Liverpool pada musim panas 2025, kendati masih memiliki ikatan kontrak hingga 2028.
Isak memilih untuk memberontak begitu tahu Liverpool tertarik untuk merekrutnya. Keseriusan ditunjukkan manajemen The Reds dengan menawarkan 130 juta poundsterling kepada Nwcastle. Sebuah harga yang menggiurkan.
Newcastle mulanya bersedia melepas Isak, asalkan bisa merekrut Hugo Ekitike, penyerang Prancis dari Eintracht Frankfurt, dan Benjamin Sesko dari RB Leipzig. Namun beginilah nasib klub medioker. Ekitike lebih memilih Liverpool dan Sesko melihat rumput Stadion Old Trafford di Manchester lebih hijau.
Maka tak ada jalan lain: pertahankan Isak dengan segala cara. Apalagi Newcastle tidak hanya akan berlaga memperebutkan tiga trofi domestik, tapi juga bertanding di Liga Champions Eropa. Eddie Howe harus serius jika tidak ingin diblender oleh Barcelona, Union St. Gilloise, Benfica, Athletic Club Bilbao, Marseille, dan Bayer Leverkusen.
Namun mempertahankan Isak bukan urusan mudah. Liverpool di tangan Arne Slot jelas lebih menarik dan menjanjikan kejayaan dibanding Newcastle. Apalagi dia akan bermain dengan nama-nama cemerlang seperti Mohamed Salah, McAllister, dan Van Dijk.
Usia Isak juga memasuki masa emas: 25 tahun. Kesempatan untuk bergabung dengan klub kaliber juara macam Liverpool tidak selalu datang dua kali. Menunggu tiga tahun di Newcastle hanya akan membenamkan potensi untuk menjadi pemain terbaik di Inggris dan daratan Eropa.
Maka Isak pun menunjukkan terang-terangan keinginannya untuk pindah ke Anfield. Bahkan ia menampik untuk bermain.
Manajemen Newcastle tidak suka. Segala daya dikerahkan, mulai dari bujuk rayu hingga ancaman denda. Isak bergeming. Keras Kepala. Keputusannya jelas: pindah ke Liverpool.
Sejumlah fans Newcastle dengan penuh emosional meminta Isak dibangkucadangkan hingga akhir musim. Alasannya sederhana: tim nasional Swedia diyakini tidak akan melirik seorang pemain yang tidak bermain reguler di klub.
Itulah mengapa seorang fan hendaknya tetap menjadi fan dan tidak mengelola klub profesional. Semboyan ‘no one is bigger than club’ dimakan mentah-mentah tanpa konteks. Kecintaan dan fanatisme menenggelamkan nalar.
Manajemen klub mana yang cukup bodoh membayar gaji buta untuk pemain bintang seperti Isak yang jelas mahal. Namun memainkan Isak juga berisiko, jika pemain itu sudah kehilangan gairah. Bisa-bisa bukan gol kemenangan yang didapat, namun kekalahan demi kekalahan karena Newcastle serasa bermain dengan sepuluh orang di lapangan.
Di dunia ini memang tak ada yang tak bisa digantikan. “There is no one that cannot be replaced,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam pidato pembukaan APKASI Otonomi Expo 2025 di Kabupaten Tangerang, Kamis (28/8/2025).
Masalahnya, Newcastle belum mendapatkan pengganti yang sepadan dengan Isak. Buka saja rekornya: pada Liga Inggeis 2024-25. Dari 34 pertandingan, dia terlibat dalam 29 gol (23 gol dan 6 assist). Hanya pemain Lverpool asal Mesir, Mohamed Salah, yang memiliki catatan lebih baik.
Pembangkangan Isak membuka episode lanjutan era kebangkitan pemain sepak bola menantang dominasi klub. Episode pertama dibuka Jean-Marc Bosman pada 1995.
Berawal dari berakhirnya kontrak sebagai pemain RFC Liege, sebuah klub divisi satu Belgia, pada 1990, Bosman ingin pindah ke Dunkerque, sebuah klub di Prancis. RFC Liege tak mengabulkannya dan dia tetap menjadi pemain di sana dengan gaji kecil.
Tidak terima, Bosman membawa persoalan ini ke Pengadilan Tinggi Eropa. Dan pertarungan itu dimenanginya pada 1995. Dua putusan pengadilan mengubah wajah sepak bola dunia: setiap pemain bebas pindah klub jika kontrak berakhir, dan semua klub Uni Eropa bebas mengontrak pemain sebanyak mungkin dari sesama negara Uni Eropa.
Kini semua pemain bebas untuk melirik klub lain jika kontrak tersisa setahun. Namun apa yang dilakukan Isak lebih dahsyat. Dengan masa kontrak yang relatif masih lama, dia sudah menuntut untuk pindah.
Sebagian mantan pemain menilai sikap Isak ini tidak profesional. Dari aspek filosofis, pertanyaan Vasilis Kostakis dalam buku Beyond The Final Whistle: Football For A Better World terkait peran seorang pemain dalam sebuah klub menjadi relevan.
Pemain sebagai individu (atau kumpulan individu) ataukah klub sebagai institutsi yang memenangi sebuah kejuaraan atau kompetisi?
Jerry Krause, General Manager Chicago Bulls, sebuah klub bola basket Amerika Serikat, menegaskan: klublah yang memenangi kompetisi. Pemain dan pelatih tidak bisa sendirian melakukannya. “I do sincerely believe that organizations, as a whole, win,” katanya.
Sementara itu, mega bintang Bulls, Michael Jordan meyakini, bahwa pemainlah yang memegang peran terpenting untuk memenangi trofi.
Namun Kostakis menyebut, para atlet olahraga berutang pada banyak orang agar bisa sukses: keluarga, suami, istri, sekolah, pelatih pertama, pencari bakat yang menemukan mereka, dan banyak orang sepanjang jalan karier seorang atlet.
Kostakis menyebut, dalam konteks sepak bola, semua gol yang tercipta di lapangan adalah produk sosial. “There is nothing more toxic than the myth of the self-made man/emtrepreneur, whose success in the result of hard work and talent alone,” tulisnya.
Pernyataan Kostakis ada benarnya. Namun terlalu mekanik dalam memahami sukses seorang atlet atau pemain sepak bola. Dia tidak menyentuh aspek relasi dan komunikasi pemain sebagai manusia dengan klub sebagai institusi bisnis.
Fans sepak bola selalu membanggakan klub adalah bagian dari idemtitas dan sejarah hidup mereka. Masalahnya, relasi antara pemain dengan klub berbeda dengan pemahaman dan relasi yang dibangun fans dengan klub. Fans mengedepankan emosionalitas. Pemain meletakkan rasionalitas.
Ada banyak hal rasional yang harus dipertimbangkan seorang atlet. Masa karir mereka terbatas, antara rentang 10-15 tahun. Tidak semua atlet seperti Cristiano Ronaldo yang bisa bermain dan dibayar mahal hingga usia kepala empat.
Tidak semua atlet berbakat menjadi pelatih cemerlang setelah pensiun. Gary Neville, pemain Manchester United, adalah contoh bagus bagaimana seorang pemain hebat tidak selalu bisa menjadi pelatih mumpuni.
Beruntung nama besar dan kemampuan komunikasinya membuat Neville bisa berkarier sebagai pandit. Namun tidak semua pemain bisa menjadi pandit atau analis yang cakap berbicara di depan kamera televisi.
Sementara di sisi lain, klub lebih cenderung dominan dan menjadikan pemain sebagai subordinat. Liverpool tidak pernah dicela karena menjual Darwin Nunez sebelum masa kontrak berakhir, dan mendapat kompensasi 53 juta Euro dari klub Arab Saudi Al Hilal. Bahkan fans memuji kejeniusan manajemen Liverpool yang bisa menjual pemain yang dinilai ‘flop’ dengan harga mahal.
Bagaimana jika kemudian seorang pemain memilih bertahan hingga kontrak habis kendati klub ingin menjualnya? Bisa saja. Namun tidak ada jaminan seorang pemain bisa memiliki waktu bermain yang cukup dan selalu diturunkan di semua pertandingan.
Mereka harus bersiap menjadin penghangat bangku cadangan, dengan alasan tidak sesuai dengan skema permainan tim. Tentu saja kendati tak bertanding, seorang pemain tetap memperoleh gaji pokok, namun dengan bonus yang berkurang atau bahkan mungkin tidak diterima.
Dengan kata lain, dalam memandang relasi klub dan pemain, orang terbiasa menilainya dari kaca mata kebutuhan klub. Bukan pemain. Pemain bisa datang dan pergi. Klub tetap tinggal dan tak akan pernah kehilangan dukungan fans dan sponsor hingga berusia ratusan tahun. Kecuali tentu saja, jika ada kesalahan manajemen pengelolaan.
Jadi, menghadapi era kebangkitan pemain sebagaimana yang ditujukan Isak hari ini, klub sepak bola hanya punya pilihan: berikan keinginan pemain, bikin dia nyaman, atau biarkan dia pergi dengan harga transfer yang pantas.
Sementara untuk pemain: Anda bisa saja meniru pembangkangan Isak. Namun pastikan peraturan pertama panduan itu memang ada pada diri Anda: bintang, pencetak gol terbanyak, dan punya bakat luar biasa yang dibutuhkan banyak orang. Panduan membangkang tidak berlaku untuk pemain berkelas medioker.
Itu saja. [wir]






