Jember (beritajatim.com) – Melandainya pandemi Covid-19 membawa kebahagiaan bagi orang-orang di Dusun Krajan, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ladokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Setelah dua tahun absen karena pandemi, Pasar Lumpur kembali digelar, Sabtu (24/9/2022).
Pasar Lumpur dilaksanakan di sekitar sawah yang berlumpur oleh kelompok bermain Tanoker yang dibina pasangan suami-istri Supo Rahardjo dan Farha Ciciek. “Ide awalnya adalah anak-anak Tanoker diajak bermain permainan khas pedesaan agar dapat mengenal tradisi budaya lokal juga untuk lebih dekat dan mencintai alam. Mereka bisa berenang di sungai, berlarian di sawah berlumpur, memainkan dolanan khas anak dan sebagainya<” kata Ciciek, dalam siaran persnya.
Anak-anak itu bermain di sebuah hamparan petak sawah seluas lapangan bola yang penuh air segar berlumpur. Mereka bisa bermain polo, berlompatan, berkejaran atau sekedar berendam sambil menikmati sinar matahari. Orang-orang dewasa kemudian datang ambil bagian dengan membawa banyak makanan, jajanan dan minuman sehat untuk dibagi dan berbagi.
“Lantaran pengunjung umum semakin banyak, kemudian dibuatlah beberapa petak peneduh untuk jajanan dan makanan yang diperjualbelikan. Jadilah Pasar Lumpur. Dari sini terbangun semangat kebersamaan, gotong royong sekaligus menguatkan sisi ekonomi keluarga,” kata Ciciek.
Ada paket Food of the Month kemudian disajikan di Pasar Lumpur. Sebut saja dawet, es degan, kolak duren, telo drink, teh Arab, kopi, teh telang, apem, lapis batik, pistol (pisang kepok kacang tolo), skupi (oseng-oseng kulit pisang), ramilur (rangin mie telur) dan banyak lagi yang lainnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-jember”]
Pasar Lumpur juga menyediakan produk-produk hasil kerajinan dan hasta karya semacam boneka egrang, gantungan kunci, dompet, kaos sulam hingga batik tulis. Ada beragam permainan tradisional seperti loncat bambu, lompat tali, tarung bantal dan lainnya serta sebagai permainan utamanya tentu polo lumpur.
Digelar menjadi acara rutin sejak 2017, Pasar Lumpur menjadi salah satu dari tujuh destinasi wisata perdamaian di Ledokombo. Destinasi wisata lainnya adalah Tanoker, Elisa Rainbow, Sekolah Bok-ebok dan Pak-bapak, Sekolah Eyang, Mizyan Batik, dan Pesantren Kopi At-Tanwir.
“Kegiatan ini pada akhirnya juga menjadi upaya melestarikan permainan tradisional dan semangat gotong royong warga mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, hingga eyang-eyang. Merakit persahabatan, kegembiraan dan mendorong perubahan yang lebih baik,” kata Cicik. [wir/but]






