Surabaya (beritajatim.com) – Pameran Fashion Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2023 resmi dibuka. Pameran bertaraf Internasional tentang produk kulit dan alas kaki, mesin, teknologi manufaktur, bahan dan layanan itu akan berlangsung 3 – 5 Agustus di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.
CEO Krista Exhibitions Daud D Salim mengatakan pameran ILF 2023 ini bertujuan meningkatkan efesiensi dalam industri manufaktur kulit dan alas kaki. Selain itu, juga membantu pelaku bisnis untuk mengoptimalkan proses produksi, menghasilkan produk kulit berkualitas. “Dan mengenalkan inovasi atau trend fashion kulit saat ini,” kata Salim dalam keterangan tertulisnya di Surabaya, Kamis (3/8/2023).
Daud menambahkan pameran ILF 2023 diikuti oleh lebih dari 200 peserta baik lokal dan internasional. Krista Exhibitions menarget sebanyak 10.000 pengunjung dari berbagai negara. “Pameran ini diikuti oleh berbagai pelaku usaha dari para supplier dari industri: alas kaki, kulit, kulit exotic, dan kulit untuk accessories, garmen dan tekstil, teknologi manufaktur dan jasa produksi, berbagai mesin pengolahan bahan baku dan juga sneakers,” kata Daud.
Daud menyebut pameran ILF 2023 kali ini mengalami peningkatan peserta sekitar 30% dibandingkan dari tahun sebelumnya. Selain itu, juga melibatkan peserta pameran lebih dari 8 negara antara lain India, Italia, China, Korea, Taiwan, Japan, Singapore, Perancis.
“Pameran ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada usaha industri manufaktur kulit dan alas kaki, yang telah mengalami peningkatan yang positif dan diharapkan setelah kegiatan pameran ILF 2023 pelaku usaha industri persepatuan, perkulitan, perkulitan (penyamakan kulit) dan barang jadi kulit di Indonesia dapat bersaing di pasar global,” ungkap pria berkacamata ini.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Eddy Widjanarko mengungkapkan ditengah melemahnya ekonomi dunia dan penurunan demand khususnya dari negara-negara tujuan ekspor tradisional Indonesia. “Industri alas kaki di Indonesia masih menjadi daya tarik, sehingga angka investasinya masih naik,” kata Eddy.
Eddy pun menyebutkan beberapa alasan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki daya tarik tinggi. Salah satunya, komitmen pemerintah yang secara cepat dan masih melakukan terobosan atas hambatan obesitas hukum serta perizinan melalui deregulasi hukum dengan metode omnibus law.
Melalui sejumlah upaya tadi, sejatinya angka pertumbuhan investasi dan ekspor Indonesia sudah dapat dilihat. “Dengan kondisi tersebut, kami berkeyakinan bahwa industry alas kaki akan tetap bertumbuh,” ungkapnya.
Namun demikian, lanjut dia, masih ada obstacle terkait daya saing industry alas kaki Indonesia, yaitu bahwa Indonesia masih belum memiliki Free Trade Agreement Indonesia – EU CEPA.
Akibatnya daya saing produk alas kaki Indonesia sulit untuk bersaing dengan produk-produk sejenis yang berasal dari Vietnam. Vietnam sendiri sudah memiliki FTA dengan EU sejak 2019 yang lalu. Untuk itu APRISINDO berharap pembahasan Indonesia – EU CEPA bisa segera difinalisasi. “APRISINDO juga akan berperan aktif sebagai mitra pemerintah untuk pembahasan mengenai Indonesia – EU CEPA ini,” ujar Eddy.
Ditempat yang sama, Ketua Umum DPP Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Budi Purwoko berharap pameran ILF dapat menjadi salah satu katalisator yang mendorong terwujudnya ekosistem bisnis sektor industri kulit Indonesia yang kokoh dan berdaya saing tinggi dimasa mendatang.
“Kita mengharapkan sektor industri kulit – alas kaki – barang jadi kulit – fashion dalam negeri semakin kuat membentuk jalinan kerja sama ekosistem bisnis dan rantai pasok (supply-chain) yang luas dan stabil,” pungkasnya.[asg/kun]
BACA JUGA:
Pameran di Surabaya, Perupa Wanita Jawa Timur Kini Makin Eksis






