Malang (beritajatim.com) – Budaya ngopi di kalangan anak muda Malang mengalami pergeseran signifikan. Tak lagi sekadar menikmati kopi, aktivitas ngopi kini menjadi bagian dari gaya hidup, sarana ekspresi, hingga ruang diskusi intelektual. Namun, perubahan ini belum sepenuhnya ditangkap oleh pelaku usaha di kawasan Sudimoro.
Hal ini disoroti oleh Dr. Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum., pengamat budaya dari Universitas Negeri Malang (UM) yang juga dosen di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Sastra. Ia menyebut, pergeseran perilaku dan makna di balik aktivitas ngopi perlu dibaca sebagai fenomena budaya yang terus berkembang.
“Ngopi sekarang bukan hanya tentang minum kopi, tapi bagaimana tempat itu bisa memberi pengalaman, suasana, dan bahkan makna baru bagi pengunjungnya,” ujar Dwi yang juga pengamat UM bidang tradisi dan kearifan lokal
Menurutnya, anak muda saat ini mencari tempat ngopi yang ikonik, memiliki desain interior khas, memadukan unsur lokal dan modern, serta menyajikan panorama alam terbuka seperti sawah atau gunung.
Tak hanya itu, interaksi dengan barista dalam konsep slow bar juga menjadi daya tarik tersendiri. “Interaksi ini membuat pengunjung merasa lebih dekat dan terlibat. Ada ruang percakapan yang hangat dan tidak terburu-buru,” ujarnya.
Dwi juga menyoroti tumbuhnya fungsi intelektual dalam budaya ngopi. Salah satu contohnya adalah Cafe Pustaka, yang tak sekadar menjadi tempat nongkrong, tetapi juga ruang diskusi dan kegiatan akademik.
“Cafe Pustaka menghadirkan suasana akademik yang mendorong munculnya ide-ide baru. Ini mengingatkan kita pada fungsi kedai kopi di masa lalu, seperti di era filsuf Socrates, yang menjadikan kedai sebagai ruang diskusi publik,” jelasnya.
Namun, ia menilai bahwa kawasan Sudimoro belum mampu mengikuti tren ini. Kurangnya inovasi dan pembacaan budaya menjadikan banyak kedai kopi di sana kehilangan pengunjung.
“Pemilik modal di Sudimoro belum maksimal membaca perubahan ini. Akibatnya, tempat-tempat ngopi di sana sepi karena tidak menawarkan pengalaman yang dicari anak muda masa kini,” tegas Dwi.
Menurutnya, pengelola kedai kopi harus mulai melihat ngopi bukan sekadar aktivitas konsumsi, tetapi telah menjadi bagian dari proses budaya yang kompleks melibatkan identitas, gaya hidup, dan kebutuhan ruang sosial baru.
“Tempat ngopi hari ini adalah ruang budaya. Siapa yang bisa menangkap esensinya, dia akan bertahan,” tutupnya. [dan/aje]






