Surabaya (beritajatim.com) – Pergerakan tanah yang terjadi di Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, sejak Selasa (28/1/2025) malam menyebabkan kerusakan pada 47 rumah warga. Sebagai langkah antisipasi, 176 orang mengungsi ke SDN 2 Cowek.
Menanggapi itu, Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, menjelaskan bahwa Jawa Timur, yang sebagian besar wilayahnya terbentuk oleh gunung api, kerap mengalami fenomena tanah retak, terutama di daerah lereng pegunungan.
Amien menyebut, kejadian ini umumnya terjadi saat hujan turun, dan bisa berlanjut menjadi bencana longsor yang merusak lingkungan sekitar. Misalnya, seperti yang terjadi di Desa Cowek, Pasuruan ini.
Ia menerangkan, proses terbentuknya tanah retak di lereng pegunungan dimulai dari pelapukan batuan. Awalnya, gunung-gunung yang sebagian besar tersusun dari batuan mengalami pelapukan akibat pengaruh iklim dan tumbuhan.
Akar pohon yang tumbuh di tanah akan mengeluarkan enzim untuk mempercepat proses pelapukan batuan, sehingga batu berubah menjadi tanah yang lebih kecil dan lebih lembut.
Seiring waktu, tanah tersebut akan menjadi lebih tebal dan mengikat tanah di lereng untuk mencegah longsor. “Karena letaknya di lereng gunung agar tanah tidak longsor akar serabut pohon mengikat butiran tanah dan akar tunjangnya sebagai angker,” jelas Amien, Kamis (30/1/2025) malam.
Namun, lanjut dia, perubahan penggunaan lahan, seperti konversi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya atau permukiman, menyebabkan tanah di lereng kehilangan perlindungan dari vegetasi. Hal ini mengakibatkan tanah menjadi lebih tidak stabil dan rentan terhadap pergerakan tanah.
Di lereng yang kritis, retakan mulai muncul di bagian atas tanah, dan semakin lama, retakan ini akan semakin lebar. Retakan yang terus berkembang seringkali diikuti oleh miringnya pohon, tiang listrik, bahkan pintu rumah yang tidak bisa dibuka akibat pergeseran tanah.
“Perubahan ini menyebabkan tanah di lereng menjadi tidak stabil atau kritis dan siap longsor tinggal menunggu pemicu,” ujar peneliti senior di ITS tersebut.
Saat hujan turun, air meresap ke dalam retakan yang ada, mempercepat proses kerusakan tanah. Air yang meresap ke dalam tanah membuat lapisan tanah menjadi lebih berat dan mengurangi daya ikat antara partikel tanah.
Hal ini akan membuat tanah lebih mudah bergerak, yang dapat memicu terjadinya longsor. Biasanya, muncul tanda-tanda gejala longsor, seperti munculnya mata air di bagian bawah lereng dan tanah yang mengembung. “Ini tanda akan longsor, sebab seluruh lapisan tanah di lereng sudah basah dan mestinya bertambah berat serta daya ikat tanah menurun drastis,” katanya.
Amien mengungkapkan, kejadian serupa sebelumnya juga terjadi di berbagai daerah di Jawa Timur, seperti di Panti Jember (2006), Ngrimbi Jombang (2014), Banaran Ponorogo (2017), Sawahan Nganjuk (2021), dan Wonosalam Jombang (2024).
Fenomena tanah retak dan longsor ini menjadi ancaman serius yang harus diwaspadai oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor, terutama selama musim hujan. [ipl/kun]






