Surabaya (beritajatim.com) – Pakar dari berbagai negara dan lintas disiplin ilmu berkumpul di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Mereka mengikuti Seminar dan Workshop Internasional Panji 2023 bertajuk ‘Cerita Panji: Ketahanan Budaya dalam Perjalanan Lintas Waktu’.
Agenda ini bagian dari ASEAN Panji Festival ini digelar Kemendikbudristek bersinergi dengan Pemprov Jatim, dan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa. Ini juga wujud komitmen untuk membumikan cerita asli Indonesia yang masuk dalam Memory of The World (MoW) UNESCO itu kepada dunia dan generasi bangsa Indonesia.
Adapun pakar yang hadir dari Jerman, Malaysia, Singapura dan Indonesia itu antara lain Dr. Lydia Kieven, Arkeolog dari University of Bonn, Jerman; Prof. Noriah Mohamad dari Universiti Sains Malaysia.
Baca Juga: PDIP Tetapkan Mahfud MD Dampingi Ganjar, Pakar Unair : Pilihan Cerdas!
Kemudian Dr. Soo Pong Chua dari Artistic Adviser of the Singapore Chinese Dance Theatre; Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro, Mendikbud periode 1993-1998; Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si., dari UNESA; dan Dr. Karsono H. Saputra dari Universitas Indonesia.
Wardiman Djojonegoro pada kesempatan itu menyoroti cerita Panji yang lebih populer di luar seperti Thailand misalnya ketimbang di masyarakat Indonesia sendiri. Karena itu, menurutnya cerita Panji harus terus diwariskan sesuai perkembangan konteks dan zamannya.
“Kalau dulu diceritakan turun temurun. Nah, sekarang cerita Panji harus menjangkau media baru seperti televisi, film, medsos agar anak-anak dan cucu kita tahu dan memahami cerita asli Indonesia ini. Kalau Panji tidak kita ceritakan kepada mereka sesuai zamannya, saya khawatir akan masa depan budaya bangsa kita,” katanya.
Pentingnya cerita Panji tersampaikan kepada generasi muda bangsa Indonesia selain berkaitan dengan ketahanan budaya bangsa, juga tidak lepas dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Arkeolog Jerman yang lama meneliti Panji di Indonesia mengungkapkan sejumlah temuannya.
Baca Juga: Tim Pakar Visi Integritas: Putusan MK Tarik Mundur Demokrasi, Hanya Jadi Ajang Politisi Karbitan
Salah satunya terkait simbol harmoni dan kedamaian dalam beberapa peninggalan lampau yang berkaitan dengan Panji. Cerita Panji, lanjut Lidya, bisa dijumpai di relief candi sekitaran Jawa Timur seperti Candi Kendalisodo di Penanggungan yang bercerita tentang heroisme, cinta, perpisahan, petualangan, dan penyatuan kembali.
Selain itu, lanjutnya, cerita Panji juga terdapat di relief Candi Mirigambar di Tulungagung, Candi Yudha di lereng Penanggungan, dan terutama Candi Penataran di Kabupaten Blitar. Figur bertopi, memegang teratai, atau perahu menjadi ciri khas yang ada di beberapa relief tersebut.
“Di Candi Penataran digambarkan figur Panji yang memakai baju yang sederhana. Panji dan Candra Kirana itu yang duduk di atas batu kasar. Kesederhanaan itu sebagai nilai luhur. Dalam ini ada nilai sejarah, dan budaya yang memukau,” papar Lidya.
Baca Juga: Mahfud MD Ternyata Jadi Cawapres Paling Favorit di Jatim
Sementara itu, Setyo Yanuartuti menyoroti pentingnya strategi dan inovasi pembumian cerita Panji agar menjadi idola generasi muda. Menurutnya, itu bisa dilakukan lewat berbagai cara, seperti mendekatkan cerita Panji pada keseharian anak-anak.
“Barang yang paling dekat dengan anak-anak muda sekarang ya gadget atau media sosial. Apa-apa sekarang itu itu lewat gawai. Nah, kita harus pikirkan bagaimana cerita dan nilai Panji itu mudah diakses anak-anak sekarang. Kita perlu ada inovasi ke arah sana,” katanya. [ipl/ian]






