Kediri (beritajatim.com) – Dalam rangka peningkatan kapasitas pengurus DPD serta pengukuhan pinisepuh, Paguyuban Sanggar Murti Tomo Waskito Tunggal Desa Bedali, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Suran Agung dalam kalender kepercayaan bulan Suro 1959 H.
Paguyuban ini merupakan salah satu dari 170 organisasi aliran kepercayaan yang terdaftar secara nasional, dan termasuk dalam 50 besar organisasi aktif di Jawa Timur. Acara digelar di lahan milik paguyuban yang berasal dari hibah mendiang Bapak Sumirin.
Gunawan Ambar Adiroso, Ketua DPP Paguyuban Kaweruh Murti Tomo Waskito Tunggal yang terpilih tahun 2024, menyampaikan sambutan kepada seluruh hadirin.
“Acara tersebut dalam rangka mangayu bagyo bulan Suro 1959 H yang mana kedepan hendaknya secara bersama-sama bangkit untuk menghidupkan organisasi Sanggar Murti Tomo Waskito Tunggal di daerah,” kata Gunawan kepada beritajatim.com.
“Setelah ada musyawarah nasional pada tahun lalu diharapkan semua anggota bersatu untuk mewujudkan Murti Tomo Waskito Tunggal yang utuh dan yang ada di daerah segera membentuk kepengurusan baru sebagai upaya menata administrasi anggotanya yang ada di daerah,” tambahnya.
Gunawan juga menegaskan pentingnya momen tersebut untuk mempercepat pembangunan pendopo sebagai pusat kegiatan paguyuban, yang telah lama menjadi harapan bersama seluruh anggota.
“Sekalian juga pada kegiatan pada malam hari ini selain support penuh juga sebagai upaya kami DPP Murti Tomo Waskito Tunggal, karena keterbatasan kami juga untuk merangkul balung pisah semua anggota agar lebih mudah,” imbuhnya.
Turut hadir dalam acara ini, DR Otto Bambang Wahyudi dari Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME (MLKI) Jawa Timur, yang memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya acara Suran Agung ini.
“Kegiatan seperti ini harus rutin dilakukan setiap tahunnya sebagai upaya melestarikan budaya dan aliran kepercayaan di negeri ini,” ungkapnya.
Bapak Liem Beng dari Bina Kepercayaan terhadap Tuhan YME juga menyampaikan makna mendalam dari pagelaran wayang kulit yang mengusung lakon Wahyu Mahkota Rama.
“Pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Mahkota Rama ini didalam alur ceritanya mempunyai makna yang sangat baik untuk diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Banyak nilai-nilai spiritual baik mengenai kebersihan hati, pengendalian nafsu diri dan masih banyak lagi,” terangnya.
“Saya sangat bangga dengan teman-teman aliran kepercayaan yang mana tidak hanya lagu kebangsaan yang dikumandangkan akan tetapi juga pembacaan Pancasila oleh semua hadirin, semoga Indonesia akan melahirkan pimpinan yang baik, jujur dan bisa membawa negeri ini di era emas nantinya,” lanjutnya.
Perwakilan dari Kesbangpol Pemerintah Kabupaten Kediri juga hadir dan memberikan dukungan, serta bimtek dan penguatan lembaga. Pemerintah berharap agar keharmonisan antarumat beragama di Kediri tetap terjaga melalui kegiatan budaya dan spiritual seperti ini. [nm/but]






