Surabaya (beritajatim.com) – PT Sinergi Gula Nasional (SGN) mencatatkan pertumbuhan volume tebu yang signifikan pada tahun 2025 meskipun menghadapi tantangan iklim dan fluktuasi harga komoditas global. Berdasarkan data operasional, jumlah tebu yang dikirim ke pabrik mengalami kenaikan hampir 20% dibandingkan periode sebelumnya.
Corporate Secretary Sinergi Gula Nasional, Yunianta, menjelaskan bahwa pada tahun 2023 jumlah tebu tercatat sebesar 11,9 juta ton. Angka ini melonjak tajam pada tahun 2025 menjadi 14,2 juta ton.
“Peningkatannya cukup signifikan, namun dari sisi produksi gula, kami menghadapi tantangan rendemen akibat iklim basah dan curah hujan tinggi,” ujar Yunianta dalam pertemuan di Surabaya.
Produksi gula SGN pada 2025 tercatat sebesar 882.000 ton, naik dari posisi 851.000 ton di tahun 2023. Yunianta menambahkan, seandainya angka rendemen stabil seperti tahun 2023, produksi gula tahun ini diprediksi mampu melampaui angka 1 juta ton.
Meski volume tebu meningkat, perusahaan menghadapi tekanan pada pendapatan akibat jatuhnya harga komoditas tetes (molase). Harga tetes yang semula berada di rata-rata Rp 2.600 per kilogram turun drastis menjadi kisaran Rp 1.100 per kilogram.
Penurunan harga ini menyebabkan potensi kehilangan pendapatan perusahaan hingga lebih dari Rp 500 miliar.
Selain harga komoditas, kenaikan harga bahan baku pendukung seperti biji plastik untuk kemasan dan kelangkaan BBM jenis solar menjadi tantangan tersendiri bagi operasional perusahaan di tahun 2026.
Menghadapi tahun 2026, SGN menyiapkan sejumlah langkah strategis, termasuk mekanisme kontrak di awal tahun untuk mengamankan pasokan BBM dan bahan baku demi menjaga stabilitas biaya produksi.
Poin utama dalam penguatan industri gula nasional tahun ini adalah rencana aksi korporasi besar berupa akuisisi pabrik gula milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Proses ini diharapkan rampung pada akhir Maret atau awal April 2026.
Selain akuisisi RNI, SGN juga sedang menjajaki potensi pengelolaan pabrik gula milik Bulog (Gendis Multi Manis) serta memantau perkembangan terkait isu lahan Sugar Group Companies di Lampung yang berpotensi dikelola oleh negara melalui SGN.
SGN terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk memastikan kebijakan impor tidak melemahkan industri domestik. Saat ini, pemerintah melalui Permendag telah menetapkan kuota impor gula konsumsi sebesar nol ton, sementara impor gula industri dibatasi di level 3,1 juta ton.
Langkah pembatasan ini diharapkan dapat melindungi pasar gula konsumsi dalam negeri agar tidak tercampur dengan gula industri, sekaligus mendorong penyerapan produksi petani lokal secara maksimal.[rea]






