Surabaya (beritajatim.com) – Menutup lembaran tahun 2025 dan menyongsong prospek ekonomi 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah ini berada dalam kondisi yang sangat prima. Kinerja solid yang ditunjukkan oleh sektor perbankan, pasar modal, hingga industri keuangan nonbank (IKNB) menjadi modal utama Jawa Timur untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa stabilitas ini tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global, mencerminkan daya tahan (resilience) ekosistem keuangan daerah yang kuat.
Meskipun menghadapi tekanan musiman seperti kenaikan harga pangan akibat faktor cuaca dan lonjakan permintaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), inflasi Jawa Timur tercatat tetap “jinak”. Hingga Desember 2025, inflasi tahunan berada di angka 2,93 persen (yoy).
Angka ini masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen. Pengendalian yang efektif ini tak lepas dari peran strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, serta stimulus pemerintah berupa PPN DTP pada sektor angkutan udara yang membantu menekan biaya distribusi dan mobilitas.
Fenomena menarik terlihat di sektor pasar modal. Jawa Timur mencatatkan pertumbuhan investor yang sangat signifikan. Jumlah Single Investor Identification (SID) saham melonjak 33,15 persen (yoy) mencapai 1,1 juta investor. Sementara itu, investor reksa dana tumbuh 25,29 persen menjadi 2,09 juta SID.
Peningkatan literasi keuangan ini juga tecermin dari nilai transaksi saham yang tumbuh luar biasa sebesar 107,70 persen, dengan total nilai mencapai Rp51,84 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa pasar keuangan Jawa Timur semakin dalam dan likuid, menarik minat masyarakat luas untuk berinvestasi.
Sektor perbankan tetap menjadi motor utama intermediasi keuangan dengan pertumbuhan kredit mencapai Rp623,08 triliun. Fokus penyaluran pada kredit investasi dan konsumtif menunjukkan geliat aktivitas usaha dan daya beli masyarakat yang tetap tumbuh.
Dari sisi keamanan, perbankan Jatim berada dalam posisi yang sangat aman:
* Likuiditas: Rasio Alat Likuid (AL/DPK) mencapai 33,77%, jauh di atas ambang batas.
* Kualitas Kredit: Rasio NPL net terjaga rendah di angka 1,53%.
* Permodalan: Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 31,02%, memberikan bantalan kuat terhadap potensi risiko di masa depan.
Sektor fintech lending juga menunjukkan fase normalisasi dengan total outstanding pembiayaan mencapai Rp11,23 triliun. Di sisi lain, OJK terus memperketat aspek pelindungan konsumen. Sepanjang 2025, ribuan layanan pengaduan diproses melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK).
Langkah edukasi juga digencarkan melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang telah menjangkau 1,4 juta peserta di Jawa Timur. OJK meyakini bahwa masyarakat yang “melek” keuangan adalah kunci dari stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan.
Dengan indikator permodalan yang kuat, likuiditas yang melimpah, dan inflasi yang terkendali, OJK optimistis Jawa Timur akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026. Sinergi antara otoritas, perbankan, dan pelaku pasar modal diproyeksikan akan terus mendorong terciptanya ekosistem keuangan yang mendukung visi Indonesia Emas 2045.[rea]






