Bondowoso (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bondowoso tengah mengembangkan konsep one stop tourism sebagai strategi untuk memperkuat sektor pariwisata.
Bupati Bondowoso, KH Abdul Hamid Wahid, menegaskan bahwa Bondowoso bukan sekadar tempat transit wisatawan yang berkunjung ke Kawah Ijen, melainkan bagian dari ekosistem wisata yang saling menunjang.
“Kita tidak dalam kerangka bersaing untuk mengalahkan atau menenggelamkan daerah lain. Yang kita dorong adalah sinergi,” kata Ra Hamid dikonfirmasi BeritaJatim.com melalui sambungan seluler.
Menurutnya, Bondowoso memiliki rangkaian tema dan locus wisata yang saling mendukung, termasuk aspek kesejarahan yang jika digali lebih dalam bisa menjadi daya tarik tersendiri.
“Bondowoso memiliki berbagai situs purbakala yang berpotensi menjadi daya tarik wisata sejarah,” tutur pria yang juga akademisi ini.
Selain itu, pemerintah daerah juga tengah memikirkan kemudahan akses dan kelengkapan fasilitas untuk mendukung konsep one stop tourism, di mana wisatawan bisa mendapatkan berbagai pengalaman wisata dalam satu kawasan.
“Jangka panjangnya, kita juga mengembangkan wisata kesehatan. Bondowoso punya potensi rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang jika dikelola dengan baik bisa menjadi tujuan utama orang untuk berobat,” paparnya.
Selain wisata alam dan sejarah, Bondowoso juga ingin menjadi pusat Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
“Intinya, orang datang ke Bondowoso bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga untuk berbisnis dan menghadiri berbagai kegiatan. Keterpaduan ini yang sedang kita pikirkan agar bisa diimplementasikan,” tambahnya.
Bupati menegaskan bahwa konsep ini bertujuan menjadikan Bondowoso sebagai destinasi wisata yang memiliki keunikan dan nilai tambah dalam kawasan Selingkar Ijen.
“Kami ingin Bondowoso memberi kontribusi nyata dalam kawasan ini, bukan hanya sebagai tempat singgah, tetapi sebagai bagian dari destinasi yang utuh dan menarik,” pungkasnya. (awi/ian)






