Surabaya (beritajatim.com) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan signifikan. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/3/2025), mata uang nasional tercatat melemah 14 poin (0,08%) ke level Rp16.676 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.562 per dolar AS.
Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho, memberikan analisis mengejutkan terkait perkembangan ini. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini justru lebih buruk dibandingkan masa krisis moneter 1998 silam.
“Di tahun 1998, ketika rupiah berada di posisi Rp16.650 per dolar, total utang luar negeri kita hanya sekitar USD70 miliar, atau setara Rp1.165 triliun. Sekarang, dengan kurs yang sama, utang luar negeri kita sudah tembus USD500 miliar, yaitu sekitar Rp8.325 triliun. Naik tujuh kali lipat,” papar Hardjuno dalam keterangannya di Surabaya, Sabtu (29/3/2025).
Fakta ini menurut Hardjuno menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini mungkin lebih besar dari yang terlihat. “Nilai tukar yang terlihat sekarang bisa jadi belum merepresentasikan tekanan riil terhadap rupiah. Bahkan mungkin masih terlalu kuat dibandingkan kenyataan,” tegasnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, Hardjuno menyebut bahkan aset strategis negara seperti holding BUMN Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang bernilai Rp10 ribu triliun pun belum tentu cukup untuk menutup total utang luar negeri Indonesia saat ini.
Pengamat yang dikenal kritis ini juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilainya tidak memiliki strategi jelas dalam mengelola utang. “Kalau semua menteri berganti, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Masalah utang ini sudah jelas-jelas bermula dari Obligasi Rekap BLBI yang terus diabaikan,” ujarnya.
Meski mengapresiasi langkah penghematan anggaran oleh pemerintahan baru, Hardjuno menekankan perlunya solusi komprehensif. “Harus ada rencana besar yang konkret dan berani. Bukan sekadar reaksi jangka pendek,” pungkasnya.
Analisis ini muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia, terutama terkait kemampuan negara dalam mengelola beban utang yang terus membengkak. Pelemahan rupiah kali ini menjadi ujian berat bagi kebijakan moneter dan fiskal pemerintah.







1 Komentar
Terlalu berlebihan kalau ada yang ngomong kondisi ekonomi sekarang ini lebih buruk dari kejadian tahun 1998. Ingat di tahun 1998 itu situasi menjadi darurat karena cadangan devisa kecil sekali sehingga nilai tukar uang rupiah ke dolar naik nggak karu karuan. Dan situasi dalam negri distribusi bahan pokok kebutuhan masyarakat terputus sehingga harga naik nggak karu karuan. Sekarang cadangan devisa cukup besar, distribusi bahan pokok masyarakat lancar, harga terkendali