Surabaya (beritajatim.com) – Ni Wayan Eni Setiawaty resmi terpilih sebagai Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Surabaya untuk masa bakti 2026-2031. Ia memperoleh mandat kepemimpinan dalam Musyawarah Kota IV WHDI yang digelar di Pura Segara Kenjeran, Surabaya.
Usai terpilih dan dilantik pada Ahad (21/6/2026), Eni mengaku termotivasi untuk mengajak seluruh anggota dan pengurus WHDI belajar bersama dalam menata sekaligus menggerakkan organisasi agar semakin berkontribusi bagi masyarakat.
“Saya ingin WHDI menjadi organisasi yang bisa turut serta dalam pembangunan Kota Surabaya,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Eni akan mendorong pengurus untuk memperkuat kerja sama internal organisasi. Menurutnya, setiap pengurus tidak hanya dituntut aktif, tetapi juga memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing sehingga program kerja dapat berjalan secara optimal, terarah, dan terukur.
“Seorang pengurus tak hanya harus aktif, tetapi juga mau belajar dan memahami tugasnya serta peka terhadap lingkungan,” katanya.
Eni juga berencana meningkatkan perhatian terhadap kondisi anggota WHDI yang tersebar di berbagai wilayah Kota Surabaya. Saat ini, kepengurusan WHDI telah terbentuk di 17 kecamatan sehingga diperlukan koordinasi dan pembinaan yang berkelanjutan.

Selain penguatan organisasi, pemberdayaan ekonomi anggota melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu program prioritas yang akan dikembangkan selama masa kepemimpinannya.
Menurut Eni, WHDI akan menggelar berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan usaha bagi para anggota. Program tersebut ditujukan baik untuk anggota yang telah memiliki usaha maupun mereka yang ingin memulai usaha baru.
“Yang sudah punya usaha akan kami beri pelatihan untuk mengembangkan usahanya. Sedangkan yang ingin memulai usaha akan kami berikan pembekalan dan pendampingan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua WHDI Surabaya periode sebelumnya, Putu Murni Sudirman, menyampaikan bahwa selama masa kepemimpinannya sejumlah program penguatan spiritual telah berhasil dijalankan sesuai amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Selain itu, pihaknya juga telah melakukan pendataan anggota WHDI se-Kota Surabaya. Hingga 2026, jumlah anggota tercatat mencapai sekitar 1.130 orang.
Putu mengakui masih terdapat sejumlah program yang belum dapat direalisasikan secara maksimal akibat dampak pandemi yang terjadi pada masa kepemimpinannya.
“Kami berharap pemimpin selanjutnya bisa melanjutkan program-program yang belum terlaksana, termasuk pengembangan UMKM,” ujarnya.

Menurut Putu, pengembangan UMKM sejalan dengan program prioritas Pemerintah Kota Surabaya. Karena itu, WHDI diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dengan Pemkot Surabaya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberadaan WHDI tidak hanya dituntut hadir bagi umat Hindu, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat luas. Hal tersebut sejalan dengan tugas organisasi dalam mewujudkan keharmonisan kehidupan bermasyarakat sesuai nilai-nilai yang diajarkan dalam agama Hindu.
Musyawarah Kota IV WHDI Surabaya turut dihadiri sejumlah tokoh dan pemuka agama Hindu, di antaranya Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Surabaya, Kepala Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, serta Ketua WHDI Provinsi Jawa Timur. [but]






