Kediri (beritajatim.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, KH Nurul Huda Djazuli atau yang akrab disapa Kiai Dah, menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di tengah pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026.
Dalam pesannya, Kiai Dah menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmat agar NU tetap menjadi kekuatan besar bagi perkembangan Islam, pesantren, dan kehidupan masyarakat.
“Untuk perkembangan Islam dan perkembangan NU, kita minta kepada Allah mudah-mudahan NU tetap berada pada asasnya, tetap teratur dengan baik. Semua merasa memiliki dan merasa dilindungi,” ujar Kiai Dah sebagai tuan rumah dalam gelaran musyawarah tertinggi kedua NU setelah muktamar.
Kiai Dah mengaku bersyukur karena Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dipercaya menjadi tuan rumah Munas dan Konbes NU 2026. Menurutnya, suasana Ploso kali ini berbeda dari biasanya karena dipenuhi ribuan tamu, ulama, dan tokoh nasional.
“Alhamdulillah saya sendiri senang sekali. Situasinya berbeda, tidak seperti biasanya. Ploso ramai seperti ini. Biasanya Ploso seolah-olah sesuai namanya, pelosok, sepi,” katanya.
Ia menyebut kehadiran para kiai sepuh, jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), hingga Menteri Agama menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar pesantren maupun masyarakat Kecamatan Mojo.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Dah juga mengenang hubungan erat keluarganya dengan pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Ia menceritakan bahwa ayahnya (KH Djazuli Ustman) pernah belajar langsung kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang dan selalu mengajarkan pentingnya menuntut ilmu.
Kiai Dah mengaku sangat tersentuh ketika membaca catatan sederhana ayahnya dalam Kitab Al-Hikam yang berbunyi, “Saya mengaji di hadapan Mbah Kiai Hasyim Asy’ari.”
“Tulisan yang begitu pendek itu sangat mengetuk hati saya. Ternyata mengaji itu sangat penting. Itu yang selalu dikatakan orang tua saya, supaya terus mengaji dan mengaji,” ungkapnya.
Menurut Kiai Dah, perubahan zaman tidak boleh melemahkan semangat warga Nahdlatul Ulama dalam menjaga organisasi yang telah diwariskan para ulama.
Ia bersyukur hingga saat ini NU tetap kokoh berkat keteguhan para kiai dan guru yang terus menjaga marwah organisasi.
“Kita semua paham situasi sekarang berubah dibanding dulu. Tetapi Alhamdulillah, karena keteguhan guru-guru kita di NU, organisasi ini masih dalam keadaan kuat dan baik. Semoga terus diberi manfaat oleh Allah SWT,” katanya.
Ia juga mendoakan seluruh pengurus NU agar mampu menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan.
“Semoga pimpinan NU bisa terus berjuang dengan tulus dan ikhlas,” ucapnya.
“Kalau NU Hidup, Pesantren Juga Hidup”
Dalam pesannya, Kiai Dah menyampaikan sebuah prinsip yang selama ini menjadi pegangan hidupnya mengenai hubungan erat antara Nahdlatul Ulama dan pesantren.
“Saya punya kaidah, pokoknya kalau NU hidup, insya Allah pondok pesantren juga hidup. Kalau NU mati, semuanya ikut mati,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh warga NU untuk terus menjaga organisasi sebagai rumah besar perjuangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Kiai Dah juga mengungkapkan bahwa hingga kini Pondok Pesantren Al-Falah Ploso terus menerima santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Setiap hari, menurutnya, sekitar 1.000 hingga 1.500 santri baru datang untuk menimba ilmu agama, bahkan berasal dari wilayah yang jauh seperti Sumatera dan daerah lainnya.
Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa pesantren masih menjadi pusat pendidikan Islam yang dipercaya masyarakat.
Menutup pesannya, Kiai Dah mengingatkan bahwa setiap perjuangan yang dilandasi niat baik akan memperoleh balasan terbaik dari Allah SWT.
“Insya Allah, kalau niat kita baik, Allah akan memberikan balasan yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan,” pungkasnya. [nm/beq]






