Surabaya (beritajatim.com) – Burhan (23), lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi dari salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, sudah hampir lima bulan menganggur sejak kelulusannya pada awal 2025. Puluhan lamaran telah ia kirimkan ke berbagai perusahaan, namun hingga kini belum satu pun yang memanggilnya untuk wawancara kerja.
“Mencari kerja sekarang susah. Saya sudah melamar ke banyak perusahaan, tapi belum dipanggil untuk interview,” ujar Burhan, Jumat (30/5/2025).
Burhan bukan satu-satunya. Ia menjadi potret dari ribuan lulusan perguruan tinggi yang menghadapi kenyataan pahit bahwa ijazah saja tak lagi cukup untuk mendapat pekerjaan. Dunia kerja terus berubah, sementara lulusan pendidikan tinggi justru makin banyak yang tidak tertampung.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 menunjukkan angka pengangguran terbuka nasional mencapai 7,28 juta orang atau 4,82 persen dari total angkatan kerja. Yang mencemaskan, pengangguran justru didominasi oleh mereka yang berasal dari jenjang pendidikan tinggi.
BPS mencatat, tingkat pengangguran terbuka dari lulusan Diploma I mencapai 9 persen, Diploma III sebesar 4,5 persen, dan lulusan universitas sebanyak 5 persen. Hal ini mengindikasikan adanya mismatch atau ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri saat ini.
Menurut Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, Dr. Ni Made Sukartini, ketidaksesuaian ini menjadi masalah struktural yang semakin nyata seiring meningkatnya jumlah pencari kerja.
“Ada mismatch antara kebutuhan industri di pasar kerja dengan kualitas skill yang dimiliki calon pencari kerja. Kemampuan hard skill dari pencari kerja berpendidikan tinggi mungkin baik, tetapi di dunia kerja yang juga dibutuhkan adalah kemampuan soft skill,” ujarnya.
Ia menyoroti transformasi digital yang mempercepat otomatisasi dan menekan kebutuhan akan tenaga kerja manual. Banyak sektor industri kini lebih memilih efisiensi lewat teknologi ketimbang merekrut tenaga kerja baru.
“Dunia kini bergerak ke arah digitalisasi. Proses-proses kerja yang dulunya manual kini sudah banyak digantikan oleh mesin dan sistem digital. Ini memperkecil peluang kerja bagi lulusan yang belum memiliki keterampilan digital dan kewirausahaan,” jelasnya.
Namun, Made menggarisbawahi bahwa bukan berarti semua solusi diserahkan kepada startup digital. Justru pelaku industri besar dan menengah didorong untuk memanfaatkan kanal digital sebagai lini ekspansi bisnis.
Ini berarti perusahaan perlu mengembangkan sistem digital internal, memanfaatkan platform daring untuk pemasaran, logistik, hingga pelayanan pelanggan, yang semuanya membutuhkan SDM melek teknologi.
“Pada era digital saat ini, para pelaku ekonomi hendaknya mulai beradaptasi dengan perubahan yang ada. Peluang kerja dan peluang usaha juga lebih cepat tersebar di media digital. Hal ini mengingat sebagian besar waktu kita sekarang terkoneksi dengan informasi digital,” jelasnya.
Pendidikan tinggi dan pemerintah, menurut Made, harus segera melakukan pembenahan sistem. Salah satunya dengan memperkuat kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha agar kurikulum bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
“Diskusi dan pelibatan ketiga unsur ini harus dilakukan secara rutin agar mampu menangkap peluang-peluang baru yang perlu dioptimalkan dalam proses pembelajaran. Kurikulum pendidikan tinggi harus memuat masukan dan evaluasi dari pihak dunia usaha agar mismatch tadi bisa kita kurangi,” jelasnya.
Jika kondisi ini dibiarkan, lanjutnya, maka dampak sosial dan ekonomi bisa semakin luas. Dari meningkatnya kesenjangan ekonomi, frustasi sosial, hingga potensi meningkatnya kasus-kasus konflik di masyarakat akibat tekanan pengangguran.
Pemerintah, kata Made, harus segera mengidentifikasi sektor-sektor padat karya yang masih mampu menyerap tenaga kerja, sekaligus mempercepat reformasi pendidikan ke arah keterampilan digital dan kewirausahaan.
“Kurikulum pendidikan atau proses pendidikan harus memuat skill berwirausaha, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru, minimal buat individu yang bersangkutan,” sarannya.
Sementara itu, kini Burhan masih terus berharap. Setiap hari, ia rutin membuka laman lowongan kerja, memperbarui portofolio, dan belajar mandiri keterampilan digital. Ia tak menyerah, meski menyadari bahwa gelar sarjana tak lagi menjadi jaminan seperti dulu.
“Sekarang saya mulai belajar desain grafis dan lain-lainnya, otodidak. Siapa tahu bisa dipakai untuk kerja freelance atau buka jasa sendiri,” tuturnya, penuh harap. [ipl/suf]






