Surabaya (beritajatim.com) – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Terbuka di salah satu SMP Negeri Kota Surabaya. Pada tahun 2024 ini terancam ditutup.
Kelas SMP Terbuka itu disebut sudah tidak lagi mendapat kucuran dana dari pemerintah. Terhitung sejak 4 tahun lalu, tepatnya pada 2021.
Salah satu Komite SMP terbuka, D, menjelaskan bahwa SMP Terbuka merupakan program pemerintah. Dalam pelaksanaannya sebelum 2021 pemerintah menurunkan anggaran Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA).
“SMP Terbuka pada prinsipnya dulu adalah salah satu program ditujukan kepada anak – anak yang tidak mampu sekolah. Tapi tak tahu kenapa, selama 4 tahun terakhir ini tidak ada lagi bantuan turun dari pemerintah,” jelas D, Senin (3/6/24).
SMP Terbuka yang ada di Kota Surabaya ini sebelumnya ada banyak. Tetapi satu per satu mulai tutup dan sisanya bertahan.
“Kelas Terbuka (SMP Terbuka) di SMP Negeri 11 dan SMP Negeri 15 Surabaya sudah tutup. Kami pun tidak tahu penyebabnya dan mungkin sama, lantaran sudah tidak ada lagi dana yang di putar,” kata Didit.
Sementara, salah satu wakil kepala SMP Terbuka, A, saat ditemui beritajatim.com mengatakan, murid SMP Terbuka kini ada 70 anak. Mereka saat belajar, menempati ruang Aula, yang disekat 3 bagian dijadikan ruang kelas.
“Sejak bantuan operasional mandek, kami di sini tetap mengusahakan bagaimana mereka ini bisa melanjutkan pendidikannya. Mereka benar benar anak, dari kalangan keluarga yang tidak mampu,” rinci A
Sedangkan, dari 70 murid ini tidak sepeser pun di tarik biaya sekolah sampai mereka lulus. Guru guru dan karyawan sekolah gotong – royong untuk membiayai sekolah, sejak bantuan mandek 2021 lalu.
“Kami para guru guru dan karyawan tiap bulannya patungan Rp33 ribu sukarela. Uang itu, digunakan untuk membelikan seragam, sepatu dan alat tulis, mulai dari mereka mendaftar sampai lulus,” papar A.
Diketahui, layanan unit pendidikan SMP Terbuka itu pertama digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal SMP, yang telah berjalan sejak 1979 silam.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, Yusuf Masruh saat dikonfirmasi beritajatim.com lewat telepon belum memberi respon. (ram/ian)






