Surabaya (beritajatim.com) – Narges Mohammadi, seorang aktivis hak-hak perempuan di Iran, telah dinobatkan sebagai penerima Penghargaan Nobel Perdamaian.
Komite Nobel memberikan penghargaan ini sebagai pengakuan atas peran pentingnya dalam melawan penindasan terhadap perempuan di Iran.
Profil Narges Mohammadi
Narges Mohammadi lahir pada tahun 1972 di pusat kota Iran, Zanjan, yang berasal dari keluarga kelas menengah. Dia dikenal sebagai salah satu aktivis hak asasi manusia terkemuka di Iran.
Dia telah mendedikasikan hidupnya untuk melawan represi pemerintah dengan fokus utama pada hak-hak perempuan.
Saat ini, dia sedang menjalani hukuman penjara 10 tahun di Penjara Evin, Tehran atas tuduhan “penyebaran propaganda anti-negara.” Dia berjuang selama 30 tahun untuk membawa perubahan mendasar ke Iran melalui pendidikan, advokasi, dan perlawanan sipil.
BACA JUGA: Ini Alasan Kuat NU-Muhammadiyah Layak Penerima Nobel Perdamaian Dunia
Selain itu, Narges Mohammadi telah memberikan pengorbanan besar, termasuk kebebasannya, kesehatannya, dan pemisahan dari suami, anak-anak, dan orang tuanya.
Terlepas dari situasinya dalam penjara, pada usia 51 tahun, Mohammadi tetap menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap pemerintah Iran.
Dia memiliki protes yang terorganisir, berpartisipasi dalam gerakan perempuan yang mengguncang Iran tahun lalu, menulis esai tamu, serta mengadakan lokakarya mingguan untuk tahanan perempuan terkait hak-hak mereka.
Suami Mohammadi, Taghi Rahmani, serta kedua anak kembarnya yang berusia 16 tahun, tinggal di pengasingan di Prancis. Mereka belum bertemu selama delapan tahun.
Dikutip dari The New York Times, Rahmani menyatakan bahwa hadiah nobel perdamaian merupakan penghargaan atas puluhan tahun pekerjaan istrinya di Iran. Menurutnya, Nobel perdamaian ini juga merupakan pengakuan untuk seluruh aktivis hak asasi manusia yang telah berjuang untuk perubahan di Iran dalam kondisi hukum yang tidak adil.
BACA JUGA: Konsep Medemer yang Mendorong Abiy Merebut Nobel Perdamaian
Wanita Penerima Nobel Perdamaian Kedua dari Iran
Mohammadi adalah wanita kedua dari Iran yang menerima hadiah Nobel Perdamaian. Sebelumnya, Shirin Ebadi, seorang pengacara hak asasi manusia dan mentor Mohammadi, menerima penghargaan tersebut pada tahun 2003.
Kedua wanita ini telah bekerja bersama di Iran di Defenders of Human Rights Center, yang didirikan oleh Ebadi pada tahun 2001. Sayangnya, organisasi ini ditutup dalam serangan kekerasan pada tahun 2009.
Perjalanan Mohammadi dimulai dari dua kenangan masa kecilnya, yaitu saat ibunya melakukan kunjungan penjara mingguan dengan saudaranya, serta ketika ibunya yang mendengarkan nama-nama tahanan yang dieksekusi setiap hari di depan layar televisi.
Mohammadi memulai studinya dalam bidang fisika di universitas Qazvin, Iran dan aktif mendirikan kelompok pendakian perempuan beserta kelompok lain yang berfokus pada partisipasi sipil.
Mohammadi telah menerima berbagai penghargaan, termasuk PEN/Barbey Freedom to Write Award di New York tahun ini dan penghargaan World Press Freedom Prize dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan Mei. (nap)






