Bojonegoro (beritajatim.com) – Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Perjalanan hidup yang dilalui itulah yang menjadi guru terbaik sepanjang masa. Seorang remaja di Kabupaten Bojonegoro menerbitkan buku sebagai prasasti hidupnya.
Untuk menulis sebuah buku, Nabil Ghali Azumi telah melalui banyak proses. Harapan besar yang digantungkan sebagai cita-cita agar bisa memberikan manfaat bagi umat mendorongnya untuk terus berusaha. Hingga lahirlah pada 2015 lalu sebuah buku cetakan pertama yang diberi judul Nafas Sang Pekat dan sudah edisi revisi 2018.
“Proses penulisan buku ini juga tidak lepas dari dukungan orang-orang sekitar. Seperti judul, ini dapat usulan dari guru Bahasa Indonesia dulu. Pekat diambil dari kondisi saya yang tidak bisa melihat,” ujar remaja kelahiran Bojonegoro, 14 Desember 2000, Selasa (5/10/2021).
Diharapkan dari karyanya tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi dirinya untuk terus mengekspresikan kemampuan di tengah kondisi dari lahir yang netra. Dia juga membuktikan bahwa kondisinya yang netra tidak membuatnya terkekang dan mampu menjalin kerjasama dengan orang lain dengan baik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”buku”]
“Dengan menulis buku ini, biar tuna netra yang lain bisa tergerak lebih maju dan tidak terpuruk. Karena banyak tuna netra yang minder dan kurang bisa mengekspos diri sendiri,” ujarnya.
Nabil sendiri mendapat dukungan penuh dari lingkungan keluarga untuk mengembangkan kemampuannya. Sejak kecil, dia sudah hidup di pondok pesantren di Ponorogo. Kemudian sekolah dan kuliah juga jauh dari orang tua. Selama menempuh pendidikan tersebut dia aktif mengikuti berbagai kegiatan.
“Selama di pesantren ikut kegiatan hafidz, IPM, dan menulis. Sejumlah tulisan juga pernah dimuat di majalah,” kata Nabil, remaja asal RT 13 RW 04 Desa Sumuragung Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro itu.
Selama proses menulis itu dia terbantu dengan adanya komputer bicara. Dari suara tersebut anak dari empat bersaudara itu mengoperasikan komputer untuk menulis dan melahirkan satu buku. Buku pertamanya itu sekarang masih dicetak versi biasa.
Dia berharap juga bisa mencetak dengan braille agar lebih inklusif. “Sisi lain sekarang lebih mudah dengan kemajuan teknologi mendengar,” jelasnya.
Selain menulis buku, dia juga memiliki kelebihan lain, yakni menghafal Al Qur’an. Awal mula dia menghafal Al-Qur’an dari usia PAUD yang sering mendengarkan murotal. “Sempat berhenti menghafal juga, tetapi sekarang lanjut lagi. Proses murajaah Al Qur’an itu sesuai mood. Kadang sehari biasanya bisa seperempat juz,” terangnya.
Dari apa yang dilakukan tersebut, yakni untuk meraih cita-citanya agar bisa bermanfaat bagi umat. Meski dia juga mengakui kadang masih kesulitan dalam mengeksplorasi diri karena rasa kurang percaya diri. “Sering mendengarkan motivator, kemudian mencoba untuk challenge kemampuan,” pungkas remaja yang suka membaca buku novel Habiburokhman itu. [lus/kun]






