Banyuwangi (beritajatim.com) – Suasana ramadhan memunculkan berbagai ide dan kreativitas warga di Banyuwangi. Begitu yang terlihat dari sejumlah kelompok musik patrol ini.
Mereka tampil beda dan memukau para pengunjung berkat performnya. Beda karena tak hanya datang saat dini hari sebagai pengantar dan penggugah warga saat tidur, namun kini mereka tampil semarak dalam satu panggung.
Rampak suara musik, dan seragamnya warna kostum memberikan suasana tersendiri. Terlebih ada kolaborasi dengan tarian khas Banyuwangi kuntulan yang makin memberikan kesan tersendiri.
Para kelompok yang tampil ini adalah para peserta terpilih. Mereka sebelumnya telah melalui seleksi secara online.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/mahasiswa-hi-ub-torehkan-prestasi-di-ntu-singapura/
Dari seleksi itu ditemukan kelompok patrol terbaik yang berasal dari berbagai kecamatan. Di antaranya Giri, Singojuruh, Glagah, Cluring, dan Banyuwangi.
Usai terpilih, panitia mengambil venue di depan Stadion Diponegoro, Banyuwangi. Usai salat Tarawih, pagelaran pun digelar.
Berbagai lagu religi berhasil menggelitik telinga. Namun, tetap memiliki nuansa tradisional, karena mereka memainkan alat musik khas patrol seperti kentongan, seruling, dan angklung.
Setelah tampil di panggung, mereka kemudian berpatrol ria keliling wilayah kota Banyuwangi. Penampilan kelompok patrol yang unik dengan membawakan musik asyik menyedot perhatian ribuan masyarakat yang rela berdiri di sepanjang jalan raya.
Tak kalah menghibur penampilan kelompok penari kuntulan. Kuntulan merupakan tari tradisional Banyuwangi yang ditampilkan dengan perpaduan nuansa Timur Tengah. Pentas tari dipadukan dengan alunan alat musik rebana dan kluncing.
“Banyuwangi ingin nguri-nguri budaya lokal melalui tradisi yang unik dan menarik ini. Selain sebagai hiburan masyarakat, harapan kami festival ini juga menjadi sarana pemulihan ekonomi warga,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani
Musik patrol dan tari kuntulan, lanjut Ipuk, sudah lama dijadikan sebagai sarana syiar Islam bagi masyarakat Banyuwangi. Hal yang serupa dengan pendekatan Wali Songo ketika menyiarkan Islam di Tanah Jawa.
Selain itu, kesenian lokal tersebut juga berperan dalam merajut keharmonisan dalam hidup bertetangga. Dalam tradisi patrol, misalnya, tercermin rasa saling peduli dan guyub rukun.
Sebagaimana diketahui, musik patrol dimainkan oleh warga setiap Ramadhan menjelang waktu makan sahur. Meriahnya musik patrol membangunkan warga muslim untuk menyiapkan menu makan sebelum berpuasa.
“Kami berharap festival ini bisa terus digelar setiap tahun agar kebudayaan dan tradisi ini terus lestari. Kami ingin musik patrol dan tari kuntulan bisa terus dimainkan oleh lintas generasi,” imbuhnya.
Hardini, salah satu penonton Festival Islami mengaku terhibur dengan pertunjukan yang ada. Ia bahkan telah datang ke sekitar area digelarnya festival sebelum acara dimulai.
“Sudah lama tidak ada festival ini. Jadi ramai sekali warga yang datang. Pertunjukannya juga bagus-bagus,” kata.
Musik patrol menjadi salah satu pertunjukan yang ditunggu-tunggu selama Ramadan. Hardini merasa lebih senang saat dibangunkan sahur dengan musik patrol ketimbang dengan suara pengeras suara keliling yang berisik. (rin/kun)






