Pasuruan (beritajatim.com) – Meski rencana perbaikan fisik Museum Cungrang Pandaan belum dapat direalisasikan tahun ini, penguatan isi dan narasi sejarah terus berjalan. Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memastikan bahwa museum tetap menjadi prioritas dalam pengembangan budaya daerah.
Museum yang terletak di kawasan wisata Cheng Hoo, Pandaan, saat ini telah memiliki sekitar 480 koleksi benda bersejarah. Koleksi tersebut mencakup artefak, replika, keris, umpak, lingga-yoni, serta berbagai dokumen dan foto sejarah penting.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan, Tri Agus Budiharto, mengatakan bahwa penambahan konten di museum merupakan langkah strategis sembari menunggu perbaikan fisik. “Kami ingin memastikan nilai sejarah di museum tetap tumbuh meski kondisi bangunan masih terbatas,” ujar Tri Agus.
Tri Agus menyebutkan bahwa sebelumnya sudah disiapkan anggaran Rp 200 juta untuk perbaikan, namun dialihkan untuk program pendidikan yang lebih mendesak. Meski demikian, ia memastikan perbaikan museum tetap menjadi agenda jangka menengah.
“Tahun ini kita alihkan dulu karena masih ada sekolah-sekolah yang sangat membutuhkan perbaikan mendesak,” jelasnya. Namun ia optimis, Museum Cungrang akan kembali mendapat alokasi anggaran pada tahun mendatang.
Penguatan konten museum dilakukan dengan menambah diorama-diorama sejarah lokal yang relevan dan menarik. Beberapa diorama yang akan ditampilkan antara lain Prasasti Cunggrang, kisah Surapati, hingga suasana Pasar 1930.
Menurut Tri Agus, diorama tersebut tidak hanya memperindah tampilan museum, tetapi juga memperkuat pemahaman pengunjung terhadap sejarah lokal. “Dengan pendekatan visual, anak-anak dan generasi muda lebih mudah memahami alur sejarah Pasuruan,” tambahnya.
Selain memperkaya isi, pengelola museum juga terus berinovasi dalam penyajian informasi dengan memanfaatkan teknologi digital. Langkah ini diharapkan membuat museum lebih interaktif dan ramah bagi pengunjung dari berbagai kalangan.
Tri Agus menegaskan bahwa meskipun belum diperbaiki secara fisik, Museum Cungrang tidak kehilangan esensinya sebagai pusat edukasi sejarah. “Kami optimis, museum ini akan terus berkembang sebagai jendela sejarah Kabupaten Pasuruan,” pungkasnya. (ada/kun)






