Jombang (beritajatim.com) – Ratusan murid SMAN 1 Jombang menggelar pondok Ramadhan di PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari. Mulai Rabu (12/4/2023) sampai Jumat (14/4/2023). Kegiatan ini pertama kali digelar lagi setelah masa pandemi Covid-19 berakhir.
Tambakberas adalah pesantren tertua di Kabupaten Jombang. Dari pondok inilah lahir ulama-ulama hebat. Pesantren Tambakberas didirikan Kiai Abdus Salam pada 1825. Kiai Abdu Salam merupakan laskar Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa. Awalnya pesantren ini bernama pondok selawe. Disebut demikian karena santrinya hanya berjumlah 25 orang. Tidak lebih, tidak kurang.
Seiring laju waktu, pondok selawe berubah wajah. Kini Pesantren Tambakberas menjadi salah satu pesantren tertua dan terbesar di Kabupaten Jombang. Santrinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kini pesantren ini mempunyai 19 lembaga pendidikan dengan 11.200 santri.
BACA JUGA:
Kitab Tulisan Tangan Mbah Hasyim Masih Tersimpan di Perpus Tebuireng Jombang
Kepala SMAN 1 Jombang Dyah Ayu Endrianingsih mengungkapkan, sebelum pandemi pihaknya juga melakukan pondok Ramadhan di Pesantren Tambakberas. Namun semenjak adanya pandemi Covid-19, kegiatan tersebut sempat terhenti. “Nah, karena pandemi sudah berakhir, kegiatan ini kita gelar lagi,” ujarnya, Kamis (13/4/2023).
Perempuan berkacamata ini berharap seluruh peserta mengikuti acara mulai awal hingga akhir. Karena banyak ilmu agama yang diberikan dalam forum tersebut. “Harapannya, peserta bisa berubah menjadi lebih baik setelah mengikuti kegiatan ini. Dan ilmunya menjadi barokah,” urainya.
Ketua Panitia Pondok Ramadhan Nuril Ibadillah menambahkan, kegiatan ini diikuti 295 peserta. Semuanya kelas X. Santri putra dan putri dengan lokasi aktivitas yang terpisah. Hal ini menjadi sesuatu yang berbeda bagi peserta yang setiap hari satu kelas antara putra dan putri.
BACA JUGA:
Ramadhan, Ratusan Santri Tebuireng Jombang Ikuti Kajian Kitab Klasik
“Materi yang diberikan khas pesantren. Mulai baca Alquran, fikih puasa, akidah, akhlak, fikih jenazah, risalatul mahid dan fikih salat. Itu belum berbagai amaliyah praktis yang dilaksanakan secara berjamaah. Seperti shalat wajib, tarwih, dhuha, tahajud, zikir, buka bersama,” kata Nuril.
Semua kegiatan ini langsung dipimpin pengasuh dan para ustaz yang ada di Pesantren Tambakberas. Sehingga upaya untuk mendampingi peserta kegitan dilaksanakan 24 jam penuh. “Bahkan menjelang dan sesudah tidur pun peserta ditunjukkan adabnya,” tambah Nuril.
Dijumpai di lokasi kegiatan, Ketua OSIS SMAN 1 Jombang Sakha Imtinan berharap kebiasaan di pesantren bisa dilaksanakan terus di rumah. Seperti peduli terhadap kebersihan dan ketaatan dalam mengikuti kegiatan. “Karena pesantren ini penuh dengan nilai-nilai pendidikan, bahkan menata sandal saja di sini diperhatikan,” jelasnya.
BACA JUGA:
Santri Tebuireng Jombang ‘Ngaji’ Feature
Dirinya juga berharap kegiatan positif seperti ini bisa berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Yakni menjadi program tahunan sekolah. Hal senada diungkapkan Mukani, guru agama Islam yang mendampingi. “Kita berharap mereka akan sadari makna Jombang sebagai kota santri. Banyak keterkaitan akan didapat. Terutama menjadi orang alim yang ahli agama dan juga wathany yang mencintai bangsanya,” ujar pria yang juga dosen STAI Darussalam Nganjuk ini. [suf/ted]






