Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membongkar praktik perjokian pada Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026.
Pelaku berinisial H tertangkap saat mengerjakan soal untuk pemesan asal Madura yang mengincar kursi Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.
Siasat ini mulanya terendus teknologi Generate AI milik panitia yang menemukan kemiripan wajah peserta hingga 95 persen dengan data tahun lalu.
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi menjelaskan bahwa pelaku menggunakan foto yang sama untuk mendaftar dengan nama berbeda.
Martadi menyebut kecurigaan tim pengawas semakin menguat saat pelaku tidak mampu menjawab pertanyaan menggunakan bahasa daerah asal pemesan.
“Kemarin ketika yang bersangkutan kita tanya, katanya dia orang Madura. Begitu kita tanya bahasa Madura, dia tidak bisa,” ungkap Martadi, Rabu (22/4/2026).
Pelaku diduga merupakan bagian dari jaringan profesional karena membawa dokumen identitas dan ijazah asli dengan stempel basah namun foto yang berbeda.
Panitia menemukan tumpukan blangko kosong di motor pelaku yang siap dicetak menjadi kartu identitas palsu untuk keperluan penyamaran selanjutnya.
“Ijazah beneran. Tapi hebatnya ijazah yang dibawa dengan foto yang diganti itu stempel basah,” ungkap Martadi.
Martadi menambahkan bahwa joki berusia sekitar 24 tahun tersebut telah terlatih menghafal profil keluarga pemesan untuk mengelabui petugas di ruang ujian.
Pihak kampus memastikan peserta yang menggunakan jasa joki tersebut otomatis gugur dan mendapat sanksi daftar hitam untuk masuk perguruan tinggi negeri.
“Ketentuannya begitu mereka ketahuan, baik joki maupun yang di joki, maka otomatis mereka akan digugurkan dan di-blacklist masuk PTN,” jelas Martadi.
Unesa kini menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada kepolisian untuk mendalami jaringan nasional yang menggerakkan aksi kriminal pada sektor pendidikan tersebut.
Langkah preventif juga diperketat dengan memeriksa area telinga peserta untuk menghindari penggunaan cip komunikasi berukuran mikro yang diselipkan saat ujian berlangsung.
“Kami berupaya betul karena kalau terjadi semacam itu sesungguhnya akan merugikan kepada yang lain dan mencederai nilai-nilai pendidikan kita,” tutup Martadi. [ipl/but]






