Surabaya (beritajatim.com) – Revitalisasi Kota Lama Surabaya telah menghidupkan kembali kawasan bersejarah ini. Namun di balik gemerlapnya, Jalan Mliwis yang menjadi surga bagi pejalan kaki, kini terancam oleh kebisingan dan potensi bahaya.
“Tidak cukup ada petugas patroli. Tapi perlu ada pos bagi petugas di tempat ini,” tegas Ricky, Ketua RT setempat menyoroti kurangnya pengawasan di Jalan Mliwis.
Dia menekankan perlunya pos jaga di jalan ini, yang kini kerap dijadikan “pangkalan geng motor” pada malam hari.
Keluhan Ricky bukan tanpa alasan. Jalan yang seharusnya tenang dan aman bagi pejalan kaki, kini terganggu oleh deru knalpot bising dari puluhan motor yang berkumpul hingga dini hari.
“Mereka biasa datang di atas jam 11 (23.00 WIB) hingga pukul 3 pagi,” ungkap Ricky.
Bukan hanya kebisingan, keselamatan pejalan kaki pun terancam oleh mobil-mobil modern yang nekat menerobos masuk, meskipun ada larangan bagi mobil box.
Menanggapi situasi ini, Wakil Ketua DPRD Surabaya, AH Thony, mendesak pemerintah untuk segera bertindak.
Thony melihat fenomena ini sebagai ekspresi komunitas muda-mudi yang ingin menunjukkan eksistensi mereka. Namun,ia juga mengingatkan tentang pentingnya etika dan saling menghormati.
“Mereka puas dengan suara kendaraannya, tapi ada pihak yang terganggu. Bisa dikendalikan dengan budaya tepo seliro,” pesannya.
Thony mengusulkan solusi konkret, seperti patroli intensif, pemasangan CCTV, penerapan e-tilang, dan pembatasan jam operasional bagi kendaraan tertentu.
“Patroli saja tidak cukup, kalau bisa aktifkan penjagaan dan CCTV, sekaligus terapkan e-tilang bagi yang dirasa melanggar,” tegasnya. [asg/beq]






