Jombang (beritajatim.com) – Pagi itu, Senin, 14 Juli 2025, hutan di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang, seolah menyimpan sunyi yang tak biasa. Seorang warga masuk ke belantara kecil itu, sekadar mencari talas, seperti rutinitas biasa. Namun, langkahnya terhenti di bawah pohon mangga tua — di sanalah, sesuatu yang jauh dari biasa menunggu.
Di atas sana, tergantung di seutas tali tambang yang mulai kusam, sesosok tubuh yang telah tinggal kerangka. Pakaian lusuh—sehelai hem dan celana panjang biru dongker—masih melekat di sisa tubuh yang sudah rapuh. Kepalanya… hanya menyisakan tengkorak.
Gemetar, warga itu berlari menuju desa, memanggil perangkat desa, memanggil siapa saja. Berita itu berhembus cepat, menebar kejut dan bisik-bisik ketakutan. Polisi datang, tim Inafis Polres Jombang, BPBD, relawan. Mereka menyibak jalur setapak menuju pohon mangga yang kini lebih mirip tiang gantungan.
Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara, mencoba memetakan misteri yang menggantung di udara, sama menggantungnya dengan tubuh tak bernyawa itu. Kerangka manusia itu lalu dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan dibawa ke RSUD Jombang, untuk diotopsi.
M. Roni, petugas Pusdalops BPBD Jombang, menahan napas saat memberikan keterangan. “Perkiraan sudah lebih dari dua minggu. Tidak ada yang mengenali. Hanya tinggal tengkorak, dan pakaian yang melekat.” Suaranya terdengar berat, seolah turut memikul misteri ini.
Kapolsek Kudu, AKP Niswan, membenarkan. “Masih dalam penyelidikan,” ucapnya singkat.
Kini, cerita tentang sosok tanpa nama yang memilih — atau dipaksa? — berakhir di atas pohon mangga itu menjadi teka-teki yang menghantui warga Jatiduwur. Siapa dia? Dari mana asalnya? Dan kenapa di sini?
Hutan itu tetap berdiri diam. Angin tetap berembus pelan. Tetapi sejak hari itu, ada kisah pilu yang ikut berhembus di antara dedaunan — kisah tentang kematian yang datang diam-diam, dan menyisakan sejuta tanya. [suf]






