Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) menghadirkan Tubagus Dedi Suwendi Gumelar alias Miing dalam acara bertajuk ‘Sarasehan Pendidikan Berbasis Budaya’. Acara ini diikuti oleh seluruh dosen Unisma di gedung Ali Bin Abi Thalib lantai 7 pada Senin 28 Agustus 2023.
Dalam pemaparannya, Dedi Gumelar menjelaskan bahwa hal utama dalam pembangunan kebudayaan adalah paradigma. Paradigma merupakan cara kerja yang sifatnya nilai-nilai yang tidak bisa diraba.
“Mahasiswa ketika berada di dalam.kelas itu proses belajarnya ada di dalam pikiran mereka. Karena gagasan inilah yang menghasilkan narasi dari kita sebagai manusia,” ujar pria yang juga pernah menjadi pelawak tersebut.
Mengacu pada pendapat WS Rendra, kata Miing, pekerjaan adalah pelaksanaan kata-kata dan kata-kata pelaksanaan dari pikiran-pikiran. Oleh sebab itu, bangunan kebudayaan manusia yang pertama adalah konstruksi atau gagasan. Kemudian kedua, action atau perilaku.
“Di dalam pikiran itu disebut budaya. Kemudian hasil cipta, karsa, dan rasa disebut dengan kebudayaan dalam bentuk yang bisa diraba. Kebudayaan bisa berupa penguasaan teknologi bahasa, sistem ekonomi, sistem tata nilai, organisasi partai politik, bahkan religi agama, dan puncaknya adalah kesenian,” ujar aktor sekaligus politikus ini di hadapan dosen Unisma.

Namun, di Indonesia ketika mendengar kata kebudayaan atau budaya konotasinya selalu dengan kesenian. Oleh sebab itu dalam politik kebudayaan, Indonesia tidak bisa maju seperti bangsa lain.
“Ada adagium begini, tidak ada satu negara yang maju dengan budaya yang rendah. Artinya negara maju punya budaya tinggi. Budaya adalah part of peradaban sehingga harus memenuhi unsur penguasaan bahasa, pengetahuan, akademik dan sebagainya seperti dalam bangunan budaya. Perlu juga penguasaan terhadap literasi peradaban,” katanya Miing.
Sementara itu, Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si., dalam sambutannya berharap agar acara ini menjadi fondasi untuk kebangkitan Unisma kedua. Unisma saat ini berada pada milestone Entrepreneur University menuju World Class University.
BACA JUGA:
Dilepas Langsung Dekan, FEB Unisma Kirim Mahasiswa Program Student Exchange ke Taiwan
“Maka dari itu kita tidak penting mengembangkan yang negatif thinking, kita harus terus berpositif thinking. Kebangkitan Unisma kedua adalah ekspansi ke berbagai negara dalam rangka kerja sama, kelas internasional, uji internasional,” ujar Prof Maskuri.
Selain itu, pada acara ini dilakukan sosialisasi tentang jurnal internasional database e-Journal ProQuest Central. Acara tersebut memaparkan tentang cara penulisan jurnal internasional bereputasi kepada para dosen Unisma. [dan/but]






