Malang (beritajatim.com) – Lebih dari sekadar syukuran, tradisi Barikan menjadi wujud nyata gotong royong dan Bhinneka Tunggal Ika. Di Merjosari, Malang, tradisi ini menyatukan seminari dan pesantren dalam satu barisan doa.
Barikan biasa digelar setiap malam 16 Agustus. Tradisi ini menjadi momen sakral bagi warga untuk duduk bersama, memanjatkan doa, dan mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan.
Barikan, yang namanya diyakini berasal dari kata Arab barik (berkah) atau Jawa Kuno baris adalah manifestasi sejati dari semangat kebersamaan. Ini bukan hanya perayaan, melainkan sebuah ritual sosial yang memperkokoh ikatan warga dan menjadi cerminan identitas bangsa yang guyup.
Dilansir dari laman Kemendikbudristek, Barikan adalah tradisi di mana warga berkumpul di ruang-ruang komunal seperti perempatan jalan, halaman rumah, atau gang-gang kampung. Dengan beralaskan tikar, mereka membentuk barisan, membawa aneka hidangan dari rumah masing-masing untuk disantap bersama.
Tradisi ini lekat dengan nilai gotong royong. Makanan yang dibawa seringkali ditukar antartetangga, menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban. Biasanya, acara dimulai dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan ramah tamah dan sering kali diisi dengan hiburan kesenian lokal.
Semangat Barikan ini hidup dan bergelora di RW 13, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, pada Sabtu malam (16/8/2025). Mengusung tema “Malam Tirakatan”, warga menggelar Barikan yang unik dan merefleksikan keberagaman wilayah mereka.
Ketua Panitia, Bambang Irawan, menyoroti betapa istimewanya lingkungan mereka. “RW 13 berada di tengah-tengah keberagaman, hampir semua agama ada di sini. Ada pesantren dan ada seminari. Ada masjid, ada juga gereja,” ungkapnya. Atas dasar inilah, Barikan menjadi momentum untuk memperkokoh persatuan semua anak bangsa.
Rangkaian acara di Merjosari menunjukkan harmoni yang indah. Malam itu dibuka dengan alunan musik akustik dari para pemuda seminari. Kemudian, acara inti diisi dengan Ngaji Budaya yang dibawakan oleh budayawan Dohir Sindu Herlianto.

“Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang Tuhan berikan,” ujar Dohir. “Malam tirakat ini menjadi kesempatan kita bersama untuk bersyukur, berkontemplasi hakikat dari kemerdekaan itu sendiri dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.”
Acara semakin meriah dengan adanya pertunjukan Payung Budaya, pemotongan tumpeng, dan ditutup dengan hiburan musik Gambus. Ketua RW 13, Edi Wasno, dalam sambutannya berterima kasih kepada semua pihak yang membuat acara ini menjadi refleksi nyata agar warga senantiasa guyup rukun.
Warga yang hadir tidak hanya membawa pulang berkah doa dan perut kenyang, tetapi juga berbagai doorprize menarik, termasuk hadiah utama berupa sebuah sepeda. Perayaan di Merjosari ini menjadi bukti konkret bagaimana tradisi Barikan tetap relevan, menjadi perekat sosial yang kuat di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. [dan/suf]






