Madura (beritajatim.com) – Debu kekuningan mengepul tebal setiap kali langkah kaki dan roda kendaraan menampar jalanan cadas Desa Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Sudah tujuh bulan lamanya langit enggan menumpahkan gerimis di atas tanah karapan sapi itu.
Terik matahari memanggang permukaan bumi yang kian merengkah, meninggalkan bayang-bayang kegersangan yang pekat. Namun, di antara bentangan tanah yang meranggas itu, bersemi hamparan seluas setengah hektar yang berdenyut hijau oleh rimbunnya daun semangka, gambas, tomat, dan timun.
Hijau itu adalah lukisan peluh Marnawi, seorang lelaki bersahaja lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs), bersama dua sahabatnya yang menamatkan pendidikan di jenjang SD dan MTs. Mereka adalah tiga pemuda desa yang menolak untuk berpasrah melangkah keluar tanah kelahiran. Walau mereka memahami betul bahwa menjadi kuli di perantauan menawarkan rupiah yang lebih cepat, ketiganya memilih menautkan nasib pada tanah sendiri.
Lewat program Eco Edufarming yang diulurkan oleh PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), mereka merawat harapan yang hampir mati di lahan inventaris milik desa.
Marnawi mengenang kembali masa ketika ia pulang dari perantauan pada tahun 2019. Kala itu, sepasang matanya menatap takjub pada jajaran sayur yang mampu menyerap hara di tanah yang biasa mengering ini, tempat di mana jagung dan kacang sekalipun kerap layu sebelum berkembang. Karena waktu itu program Edufarming sudah mulai jalan.
Langkah mereka sempat terhenti tatkala gelombang pandemi COVID-19 memaksa Marnawi kembali mengadu nasib sebagai kuli. Namun, tatkala panggilan pembelajaran dibuka kembali pada tahun 2021, bara di dadanya kembali menyala. Didampingi oleh akademisi dan praktisi pertanian, mereka kembali menyentuh tanah, meraba tekstur bumi, serta memberanikan diri menanam benih tomat varietas Sofia, cabai, dan sawi.
Awal perjalanan itu tak sunyi dari cibiran. Bibit-bibit muda yang dipindahkan ke lahan sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian warga, dianggap tak akan mampu bertahan memeluk cadas Tanjung Bumi yang membara.
Namun, Marnawi dan kedua temannya memilih membisu, merawat tiap helai daun dengan ketelatenan dan doa yang tak putus. Ujian sesungguhnya berganti rupa tatkala buah kerja keras itu dibawa ke lorong-lorong pasar tradisional Madura. Para pedagang memalingkan muka, terbelenggu anggapan lama bahwa air tanah lokal tak elok untuk sayur dan tomat setempat akan membusuk lebih cepat ketimbang hasil bumi dari Pulau Jawa.
Menghadapi pintu yang tertutup, Marnawi mengetuknya dengan keuletan. Ia membagikan sampel secara cuma-cuma dari warung ke warung, meyakinkan para pedagang dengan pembuktian nyata.
Ketika tengkulak biasa mendatangkan tomat Jawa seharga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, Marnawi mengalah melepas hasil jerih payahnya seharga Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram. Keberanian itu berbuah manis tatkala hasil panennya terbukti sanggup bertahan segar hingga sepekan. Dari sana, prasangka perlahan runtuh, dan para pedagang mulai berbalik menantikan pasokan dari jemari petani lokal ini.
Keberhasilan mengalirkan kehidupan di tanah gersang ini bukanlah cerita yang tumbuh dalam sekejap. Perjalanan panjang kepedulian sosial PHE WMO di Desa Bandangdajah sesungguhnya telah ditorehkan sejak tahun 2007. Kala itu, PHE WMO memulai Program Pengembangan Masyarakat (PPM) melalui pembentukan HIPPAM “Sumber Barokah” untuk menjawab dahaga warga akan air bersih. Dari jangkauan air bersih bagi lebih dari 400 kepala keluarga tersebut, PHE WMO bersama Universitas Gadjah Mada kemudian mengukur kedalaman bumi melalui studi geolistrik pada tahun 2019. Hasilnya menyibak fakta bahwa tanah ini menyimpan Cadangan Air Tanah Ketapang hingga 51 juta meter kubik per tahun.
Berangkat dari temuan surplus air tersebut, PHE WMO merajut inovasi pertanian regeneratif Eco Edufarming. Siklus olah tanah ini dirancang meminimalisasi gangguan pada struktur bumi, menjaga permukaan tanah tetap tertutup vegetasi, serta menyemaikan lebih dari 11 varietas tanaman hortikultura. Sentuhan teknologi tepat guna seperti irigasi tetes yang menghemat air hingga tiga kali lipat, sistem hidroponik NFT, panel surya penggerak pompa, dan sensor nutrisi tanah menjadi penopang utama daya tahan lahan. Sektor peternakan pun dipadukan; puluhan ton limbah kotoran ternak dan sabut kelapa diolah menjadi kompos, pupuk organik cair, serta mikroorganisme lokal untuk memulihkan kelembapan bumi.
Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur PHE, Sigit Dwi Aryono, menegaskan bahwa program ini merupakan wujud dari konsep One Belt One Road (OBOR) yang diusung PHE WMO untuk merajut kemandirian masyarakat di wilayah sekitar operasi.
“Program Eco Edufarming di Desa Bandangdajah merupakan bentuk nyata komitmen PHE WMO berkontribusi pada upaya pemberdayaan masyarakat melalui pertanian regeneratif dan adaptif terhadap kondisi lahan kering,” tutur Sigit Dwi Aryono.
Ia menjelaskan bahwa penggabungan antara tata kelola air, penyuburan lahan, pemanfaatan limbah organik, dan teknologi tepat guna dirancang untuk menghidupkan kembali produktivitas tanah sekaligus menebarkan benih kesejahteraan baru.
“Melalui program Eco Edufarming ini, kami berharap masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan. Kami percaya bahwa kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci dalam membangun kemandirian masyarakat dan menciptakan dampak positif yang berkelanjutan,” tambah Sigit.
Program urbanfarming di Bandangdajah ini merupakan lanjutan program yang sudah dirintis sejak 2007, HIPPAM “Sumber Barokah” telah melayani lebih dari 400 kepala keluarga dan menjangkau tiga desa di Kecamatan Tanjung Bumi.
Studi geolistrik bersama Universitas Gadjah Mada pada 2019 kemudian memperkuat fondasi program dengan menemukan cadangan air tanah Ketapang sekitar 51 juta meter kubik per tahun.
Dari temuan itu, PHE WMO mengembangkan Eco Edufarming yang kini telah meningkatkan produktivitas 6,7 hektare lahan kering, memanfaatkan 95,8 ton limbah ternak menjadi pupuk organik, serta mengolah lebih dari 6 ton cocopeat per tahun untuk mendukung efisiensi air.
Buah dari ketekunan di tengah gersangnya bumi itu kini meneteskan martabat ekonomi bagi keluarga mereka. Saat panen berlimpah, kelompok tani ini mampu mengumpulkan pendapatan hingga Rp 60 juta dalam rentang waktu enam bulan. Kendati musim tak selalu ramah dan hasil panen terkadang menyusut hingga berpendapatan Rp 15 juta sampai Rp 20 juta saja, rupiah tersebut cukup untuk menegakkan martabat dapur rumah tangga mereka. Bahkan dalam kondisi paling sulit, setiap anggota masih mengantongi sedikitnya Rp 1,5 juta setiap bulan, sebuah bukti bahwa tanah sendiri sanggup memberi kehidupan.
Bagi Marnawi dan kedua rekannya, setengah hektar tanah yang tetap hijau di tengah kemarau panjang itu bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan lambang perlawanan terhadap kepasrahan. Cita-cita terbesar yang kini bersemi di dada mereka adalah melihat warga desa bangkit menggarap tanah kelahiran mereka sendiri.
Mereka merindukan hari di mana masyarakat Bandangdajah dapat berdiri tegak memenuhi kebutuhan pangannya tanpa terus menggantungkan harapan pada pasokan dari luar pulau, membuktikan bahwa di atas tanah kering sekalipun, kehidupan dapat tumbuh dengan subur bila dirawat dengan pengetahuan, peluh, dan cinta.[rea]







