Ringkasan Berita:
- KWT Rosella di Kelurahan Sarijaya, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara, berhasil melakukan panen perdana melon premium melalui Program Lingkungan Hidroponik (POLIPONIK) binaan Pertamina EP Sangasanga Field.
- Panen menghasilkan 128 buah melon dengan berat rata-rata 1,7 kilogram per buah dan tingkat keberhasilan mencapai 95 persen.
- Program tersebut memberdayakan 15 perempuan, termasuk warga lanjut usia dan kelompok janda, untuk mengembangkan keterampilan pertanian modern dan memperkuat kemandirian ekonomi.
- Sebanyak 75 persen hasil panen perdana telah terjual melalui strategi pemasaran digital dan sistem open pre-order.
Kutai Kartanegara (beritajatim.com) – Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosella di Kelurahan Sarijaya, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berhasil memanen 128 buah melon premium melalui Program Lingkungan Hidroponik (POLIPONIK) binaan PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field. Panen perdana yang berlangsung pada Jumat (9/10/2026) ini menjadi capaian penting dalam pengembangan pertanian modern sekaligus pemberdayaan ekonomi perempuan di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Kegiatan panen perdana tersebut dihadiri manajemen PEP Sangasanga Field, Pemerintah Kecamatan Sangasanga, Balai Penyuluh Pertanian, serta perwakilan warga setempat. Capaian ini menandai perkembangan kelompok tani yang sebelumnya menghadapi pasang surut akibat keterbatasan lahan dan serangan hama.
Head of Communication, Relations & CID Zona 9, Dharma Saputra, mengatakan pendampingan bertahap telah membantu KWT Rosella melewati sejumlah tantangan dalam mengembangkan budidaya pertanian.
“Melalui pendampingan bertahap, kelompok mampu melewati dua siklus panen sayuran dengan baik. Keberhasilan tersebut menjadi modal untuk mengembangkan komoditas yang lebih beragam pada 2026, yakni melon premium yang dibudidayakan di greenhouse dengan tiga varietas: Melon The Blues, Melon Sweety Lavender, dan Melon Honey Globe,” ungkap Dharma.
Dalam panen perdana tersebut, KWT Rosella menghasilkan 128 buah melon dengan berat rata-rata 1,7 kilogram per buah. Tingkat keberhasilan panen mencapai 95 persen dari proses budidaya yang dilakukan oleh 15 anggota kelompok.
Capaian tersebut menunjukkan potensi metode hidroponik untuk mendukung pengembangan komoditas pertanian bernilai ekonomi di tengah tantangan lingkungan. Penggunaan greenhouse juga menjadi bagian dari upaya kelompok dalam mengembangkan budidaya melon secara lebih terkontrol.
Ketua KWT Rosella mengapresiasi pendampingan PEP Sangasanga Field yang dinilai memberikan solusi konkret ketika kelompok menghadapi tantangan iklim. Menurutnya, budidaya melon memberikan alternatif usaha saat tanaman sayuran hidroponik mengalami kendala akibat kemarau.
“Kami sangat terbantu dengan pendampingan ini. Di tengah kemarau yang membuat sayuran hidroponik layu, melon justru dapat bertahan sehingga pemasukan kelompok tetap terjaga,” tuturnya.
Program POLIPONIK memberdayakan 15 perempuan di wilayah Sarijaya, termasuk warga lanjut usia dan kelompok janda. Selain menyediakan sarana budidaya, program ini diarahkan untuk meningkatkan keterampilan pertanian modern sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Camat Sangasanga, Sudarmadi. Ia mengapresiasi inisiatif pemberdayaan yang dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PEP Sangasanga Field yang telah aktif memajukan taraf hidup masyarakat melalui program pemberdayaan,” ujar Sudarmadi.
Selain mengembangkan teknik budidaya, KWT Rosella mulai memperluas pemasaran melalui media sosial dan sistem open pre-order. Strategi tersebut membantu kelompok menjangkau calon pembeli sekaligus memperkenalkan melon premium hasil budidaya mereka kepada pasar yang lebih luas.
Dari total hasil panen perdana, sebanyak 75 persen dilaporkan telah terjual. Capaian penjualan tersebut menunjukkan adanya potensi pasar bagi komoditas melon premium yang dikembangkan kelompok, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan anggota.
Ke depan, program POLIPONIK diharapkan terus berkembang sebagai upaya mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi baru. PEP Sangasanga Field berkomitmen mendorong kemampuan kelompok agar dapat mengelola usaha pertanian secara adaptif, produktif, dan berkelanjutan.
“Keberhasilan KWT Rosella dalam menjaga panen hingga 95 persen di tengah tantangan iklim adalah bukti bahwa integrasi teknologi hidroponik dapat menjadi motor penggerak bagi ketahanan pangan yang berkelanjutan dan inklusif,” imbuh Dharma Saputra. [hen/beq]






