Ringkasan Berita:
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau Gudang Bulog Surabaya Utara.
- Stok beras nasional diklaim mencapai 5,3 juta ton, tertinggi sejak Indonesia merdeka.
- Pemerintah juga mencatat kenaikan NTP dan PDB sektor pertanian.
- Data produksi beras Indonesia disebut mendapat pengakuan dari FAO dan USDA.
Surabaya (beritajatim.com) – Andi Amran Sulaiman meninjau langsung Gudang Penyangga Perum Bulog Surabaya Utara di kawasan Jalan Bumi Maspion, Romokalisari, Benowo, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Pertanian RI mengungkapkan capaian stok beras nasional yang disebut mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Berdasarkan data pemerintah, stok beras nasional saat ini berada di angka 5,3 juta ton dan diproyeksikan terus meningkat hingga 5,5 juta ton pada akhir Mei 2026.
“Hari ini kita mencapai stok tertinggi dalam sejarah yaitu 5,3 juta ton. Mudah-mudahan bulan depan atau akhir bulan 5,5 juta ton. Dan ini adalah tertinggi selama Republik ini merdeka,” ujar Amran.
Menurut Amran, capaian tersebut melampaui rekor stok beras nasional sebelumnya yang terjadi pada tahun 1984 di era pemerintahan Soeharto.
Ia menyebut keberhasilan ketahanan pangan di era pemerintahan Prabowo Subianto tidak hanya tercermin dari tingginya cadangan beras nasional, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan petani.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, Nilai Tukar Petani (NTP) saat ini diklaim mencapai level tertinggi dalam 33 tahun terakhir. Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian juga disebut mengalami lonjakan signifikan.
“PDB sektor pertanian pada saat pemerintahan Bapak Prabowo serah terima itu 0,67 persen, sekarang itu naik 5,7 persen tertinggi selama 25 tahun dan mungkin tertinggi sepanjang sejarah,” paparnya.
Amran mengatakan peningkatan produksi dan ketahanan pangan Indonesia juga mendapat pengakuan dari lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization serta United States Department of Agriculture.
Menurutnya, data produksi beras nasional sebesar 34,6 juta ton yang dirilis BPS juga diperkuat oleh data lembaga internasional tersebut.
“Data BPS produksi beras kita yaitu 34,6 juta ton. Juga ini di-aminkan oleh FAO. Juga dari Amerika Serikat, USDA mengatakan 34,6 juta ton,” tegas Amran.
Di akhir kunjungannya, Amran menegaskan capaian stok beras nasional tersebut merupakan hasil kerja pemerintahan dan Kabinet Merah Putih selama lebih dari satu tahun terakhir di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Atas capaian stok beras nasional yang disebut menembus 5,3 juta ton itu, Amran menyatakan Indonesia kembali menerima penghargaan tertinggi dari FAO untuk kedua kalinya setelah sebelumnya pernah diraih pada era Presiden Soeharto.
“Sekarang di era Bapak Prabowo kita mencapai puncaknya 5,3 juta ton dan penghargaan dari FAO dua kali kita terima berturut-turut. Sudah dua penghargaan tertinggi dari FAO kita terima,” pungkasnya. [rma/beq]






