Ringkasan Berita:
- Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengapresiasi sistem pengelolaan sampah Kabupaten Jombang yang dinilai progresif dan mendekati sempurna saat meninjau TPA Banjardowo.
- Pemerintah pusat mendorong peningkatan kapasitas pengolahan sampah melalui dukungan teknologi RDF dan pengolahan sampah organik menjadi pellet biomassa bernilai ekonomi.
- Kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemkab Jombang diarahkan untuk mewujudkan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah yang menghasilkan manfaat ekologis dan ekonomi.
Jombang (beritajatim.com) – Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Jombang untuk meninjau langsung fasilitas pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjardowo, Rabu (15/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Menteri memberikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Kabupaten Jombang dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang dinilai progresif dan mendekati sempurna.
Dalam sambutannya di hadapan Wakil Bupati Jombang, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan, Jumhur Hidayat menyebut pengelolaan sampah di Jombang sebagai salah satu contoh inovasi daerah yang patut diapresiasi.
“Ini adalah kabupaten yang membanggakan, penuh dengan inisiatif, dan berhasil menghasilkan suatu sistem pengelolaan sampah yang boleh dibilang mendekati sempurna,” ujar Jumhur Hidayat di hadapan Wakil Bupati Jombang Salmanudin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Miftahul Ulum, serta jajaran OPD dan tamu undangan yang hadir.
Menteri Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa Kabupaten Jombang saat ini menghasilkan timbulan sampah sekitar 530 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan mencapai hampir 180 ton per hari. Namun, keterbatasan kapasitas alat yang tersedia saat ini, yaitu maksimal sekitar 35 ton, membuat proses pengolahan belum dapat berjalan secara maksimal.
Menurutnya, peningkatan kapasitas alat produksi hingga 200 ton perlu dilakukan agar sampah yang berakhir di TPA hanya berupa residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Selain meningkatkan kapasitas pengolahan, Menteri juga menyoroti potensi besar sampah organik di Jombang. Berdasarkan komposisinya, sekitar 55 persen hingga 60 persen dari total timbulan sampah merupakan sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran.
Apabila dipilah dan dikelola secara tepat, sampah tersebut dapat memiliki nilai ekonomi tinggi melalui berbagai inovasi pengolahan, salah satunya menjadi pellet biomassa sebagai bahan substitusi batu bara.
“Jika diolah menjadi pellet untuk pendamping batu bara, prosesnya tidak terlalu rumit dan harganya bisa berkisar antara 40 hingga 50 dolar AS per ton. Jika kita bisa mengolah 60 ton saja per hari, potensi pendapatan yang dihasilkan bisa mencapai sekitar Rp30 juta per hari,” jelasnya.
Jumhur Hidayat menambahkan bahwa produk biomassa hasil pengolahan sampah memiliki peluang pasar yang besar, terutama bagi sektor industri seperti pabrik semen. Pemanfaatan biomassa tersebut dinilai mampu membantu industri mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus meningkatkan kepatuhan terhadap aspek lingkungan.
Untuk memperkuat pengelolaan sampah di Jombang, Kementerian Lingkungan Hidup berkomitmen melakukan kajian terhadap dukungan teknologi tambahan, termasuk alat pirolisis maupun teknologi pengolahan lainnya. Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sampah sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
“Kami akan membantu mencarikan jalan keluar, mempelajari alat apa yang bisa ditambahkan agar proses ini semakin maksimal dan mendatangkan pendapatan yang lebih besar,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup juga menyampaikan kedekatan emosionalnya dengan Kabupaten Jombang. Ia mengenang hubungan eratnya dengan almarhum Gus Dur dan keluarga sebagai sesama aktivis. Menurutnya, identitas Jombang sebagai Kota Santri telah tercermin dalam aksi nyata menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Kebersihan adalah sebagian dari iman. Teman-teman santri di Jombang betul-betul membuktikan hal tersebut secara nyata. Jombang pantas menjadi percontohan ekonomi sirkular bagi kabupaten-kabupaten lain di Indonesia,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Jombang Salmanudin menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap pengembangan pengelolaan sampah di Kabupaten Jombang.
“Dengan datangnya Pak Menteri di Jombang, harapannya dapat membawa manfaat. Tadi didukung penuh oleh Pak Menteri, adapun dukungan tersebut berupa peralatan yang meningkatkan nilai sampah terolah yakni alat pembuatan RDF,” jelas Wakil Bupati Jombang yang akrab disapa Gus Wabup.
Dukungan pemerintah pusat tersebut mencakup bantuan peralatan pengolahan sampah berupa teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mengolah sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif industri. Selain itu, terdapat peluang pengembangan teknologi pengolahan sampah organik menjadi wood pellet yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang, Miftahul Ulum, memandu langsung proses peninjauan teknis operasional di TPA Banjardowo. Pemeriksaan meliputi performa mesin pencacah hingga fasilitas sortir sampah yang menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan.
DLH Kabupaten Jombang menyatakan bahwa kesiapan infrastruktur daerah saat ini telah berada pada tahap akhir dan tinggal menunggu optimalisasi melalui kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup.
“Kami optimistis sinergi tersebut dapat menghadirkan pengelolaan sampah yang lebih modern, memberikan manfaat ekologis, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Miftahul Ulum. [suf]






