Gresik (beritajatim.com) – Ada tradisi sanggring, atau kolak ayam di malam 23 Bulan Ramadhan di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Gresik. Kuliner peninggalan Sunan Dalem yang sudah berusia 499 tahun itu, sampai sekarang masih tetap dijaga kelestariannya.
Keunikan dari sanggring tersebut, juru masaknya semua laki-laki. Mulai dari membuat bumbu, meracik, memasak, hingga cara menyajikan.
Perayaan sanggring yang digelar sekarang berbeda dari tahun sebelumnya. Kali ini, tradisi ratusan tahun tersebut digelar lebih meriah dengan menggelar Festival Banjari serta menghadirkan qori internasional Sayyid Zulfikar Assyaibani.
Awal tradisi ini bermula dari Kanjeng Sunan Dalem anak Sunan Giri yang juga penyebar agama islam sedang sakit, dan belum ditemukan obatnya. Setelah dibuatkan obat mujarab berupa kolak ayam. Kanjeng Sunan Dalem yang semula sakit bisa sembuh.
Secara filosofis kata Sanggring berarti raja. Sedangkan Gring berarti gering, atau sakit. Bila diartikan obat untuk raja yang sakit. Makanan khas itu, pertama kali dikenalkan 22 Ramadan 946 H atau 31 Januari 1540 masehi.
Ketua Pelaksana Tradisi Sanggring Didik Wahyudi menuturkan, tahun ini perayaannya lebih meriah dibanding tahun lalu. “Untuk tahun ini biayanya spesial, karena acaranya semakin besar dan tamunya semakin banyak,” tuturnya, Selasa (2/04/2024).
Sanggring atau kolak ayam terdiri dari ketan, santan, jinten, bawang daun, gula merah, serta ayam kampung. Kuliner khas ini hanya bisa dijumpai saat Bulan Ramadhan saja. “Kita menyediakan 3200 porsi sanggring untuk tamu, yang berasal dari 250 ekor ayam, 740 kilo gula merah, 240 kg daun bawang, 600 butir kelapa dan 50 kilo jinten,” ungkap Didik.
Kepala Desa Gumeno Hasan Fatoni mengatakan, juru masak kolak ayam sanggring hanya dilakukan laki-laki sesuai dengan kisah Sunan Dalem pada masa itu. “Sanggring dibuat oleh santri laki-laki semua sesuai intruksi atau anjuran Sunan Dalem. Tapi sebenernya perempuan tidak masalah, kami menjaga tradisi leluhur yang sudah ada saja,” katanya.
Para tamu yang mengikuti semarak sanggring di Masjid Sunan Dalem, akan bertandang ke rumah warga setempat dan disuguhi menu yang sama. Semakin banyak tamu, semakin banyak pula sedekah. Harapannya tradisi ini selalu ada ditengah era digitalisasi. [dny/kun]






