Surabaya (beritajatim.com) – Asrama tiga lantai yang berlokasi di pinggiran timur Surabaya, di Jalan Wonorejo Timur No. 130, Rungkut, menjadi saksi bisu tekad kuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menyetarakan pendidikan bagi ratusan anak dari keluarga tidak mampu.
Dikenal dengan nama RIAS atau Rumah Ilmu Arek Suroboyo, asrama pendidikan gratis ini merupakan program Pemkot Surabaya yang telah berdiri sejak tahun 2022, serta telah menampung 110 anak.
Sore itu, Selasa (15/7), suasana di asrama RIAS mendadak lebih ramai dari hari biasanya karena kunjungan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi beserta rombongan. Keramaian itu mengundang rasa penasaran anak penghuni asrama, beberapa anak yang belum genap usia 10 tahun tampak malu-malu mengintip dari balik dinding atau celah jendela.
Dari keceriaan dan kepolosan 110 anak yang tinggal di asrama RIAS ini, sekilas tidak ada yang menyangka bahwa di balik itu, mereka memikul harapan besar dari keluarga mereka. Mereka berjuang untuk mengenyam pendidikan yang layak, demi mengubah putusan takdir dan mengangkat derajat keluarga mereka dari himpitan ekonomi.
Dengan penuh perasaan, Eri Cahyadi menyampaikan bahwa program RIAS yang sejak tahun 2022 dibentuk ini bertujuan untuk membantu anak-anak mewujudkan impian membahagiakan orang tua. Ia terharu melihat banyak orang tua yang menitipkan anak mereka tanpa alas kaki dan berderai air mata, berharap masa depan anaknya tidak sama seperti mereka.
“Bahkan kemarin datang ke sini ono sing gak ono sandal wong tuone (ada yang tidak pakai sendal orang tuanya). Makanya saya bilang sudah jangan diekspos dulu. Karena apa? Karena kebahagiaan mereka, status sosial mereka adalah tanggung jawab saya (Wali Kota). Ketika mereka beliau-beliau datang ke sini terus tidak pakai sandal. Saya juga ikut salah. Karena bagaimanapun mereka adalah keluarga saya dan warga Surabaya. Maka di situ saya tidak ingin mereka diekspose,” kata Eri Cahyadi.
“Maka ketika (anak) sudah masuk, ayo kita ajarkan anak-anak ini agar anak-anak ini kelak bisa membahagiakan orang tuanya,” imbuh Eri.
Meskipun demikian, Eri tetap merasa bangga dengan perkembangan anak-anak di asrama RIAS. Kebanggaan ini didasari oleh banyaknya prestasi yang telah mereka capai, serta kelengkapan fasilitas pendidikan karakter yang selaras dengan bakat masing-masing.
“Tadi disampaikan oleh pelatih tinju, dari sekian banyak atlet Porprov itu dari tempat ini. Nah, ini yang saya ingin menunjukkan ke anak-anak Surabaya. Ini loh, anak-anak yang di tempat ini (RIAS) adalah anak-anak berprestasi. Maka adik-adik kelasnya itu, adik-adik yang junior bisa mencontoh kakak-kakaknya,” terang Eri.
Dalam kunjungan singkatnya ke asrama RIAS, Eri menemukan sebuah kesimpulan menarik bahwa, asrama ini tidak kalah setara dengan Sekolah Rakyat, program yang dicanangkan pemerintah pusat. Di asrama ini, para siswa tidak hanya difasilitasi dengan ruang tidur yang memadai, tetapi juga beragam ekstrakurikuler menarik, mulai dari tinju, komputer, balap sepeda, pencak silat, melukis, futsal, voli, hingga nge-band. Tak hanya itu, asrama ini juga aktif menjalankan aktivitas kebangsaan, seperti latihan baris-berbaris yang dibimbing Gartap dan kegiatan mengaji.
“Kami ingin anak-anak yang besok lulusan dari RIAS ini selain memiliki kemampuan, selain memiliki keyakinan, maka anak-anak ini memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, juga memiliki akhlakul karimah,” tutupnya. [ram/aje]






