Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi terkenal akan kaya motif batik lokal yang melegenda. Banyak ciri khas dan keistimewaan dari setiap batik yang dihasilkan.
Sampai saat ini tercatat ada 44 macam motif batik yang berkembang di Banyuwangi. Salah satunya adalah motif Sembruk Cacing yang menjadi tema pada gelaran Banyuwangi Batik Festival akhir pekan lalu.
Sembruk Cacing merupakan motif batik yang cukup kuno. Bahkan, memiliki filosofi tersendiri dari penciptaannya.
Baca Juga: Turnamen BNI Indonesia Masters 2023 Diikuti Pebulutangkis Dunia
Filosofi dari motif ini adalah mengangkat tentang kesuburan. Jika diartikan, sembruk berarti rumah, sementara cacing adalah hewan melata yang hidup di tanah.
Tapi, dia memiliki peran cukup penting dalam fungsi membantu mengurai tanah. Dia juga sebagai pengurai bahan organik menjadi unsur hara di dalam tanah.
Itulah mengapa BBF tahun ini mengangkat motif Sembruk Cacing. Pada penampilan itu terdapat puluhan busana batik dengan tema serupa. Mulai dari busana muslim, casual, resmi, hingga busana pesta.
Ajang yang telah memasuki satu dekade pelaksanaannya tersebut tidak sekadar menggelar fashion show. Namun, juga diiringi serangkaian kegiatan lain yang mendorong kecintaan generasi muda pada batik.
Baca Juga: Pedagang Alun-alun Tagih Janji Wali Kota Blitar Soal Bantuan Kontainer Jualan
Mulai lomba desain batik, fashion on pedestrian, pemilihan duta batik, jazz batik, pasar batik, hingga meras batik yang semuanya melibatkan kalangan anak-anak remaja dan pelajar.
“Alhamdulillah, kini ekosistem batik mulai tumbuh. Pelauku umkm yang awalnya hanya belasan, kini sudah mencapai 60 pelaku usaha batik di Banyuwangi,” terang Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Tidak hanya itu, konsistensi Banyuwangi menggelar Banyuwangi Batik Festival selama satu dekade terakhir juga banyak melahirkan kreativitas dan inovasi. Salah satunya yakni munculnya desainer dan para perajin yang penuh kreasi.
Baca Juga: Polres Pasuruan Tangkap Pelaku Penipuan Bermodus Dukun Pengganda Uang
“Belum lagi para desainer yang desainnya sudah semakin bagus, para perajin batik yang juga ikut tumbuh. Kami berharap ekosistem ini terus membesar,” ungkap Ipuk.
Salah satu pelaku usaha batik di Banyuwangi, Fifin Andri berharap BBF tahun ini menjadi pengungkit kembali industri batik seiring dengan kembali menggeliatnya pariwisata Banyuwangi.
“Usaha kami pengembangannya seiring dengan pariwisata. Setelah sempat turun saat pandemi kemarin, kini sudah mulai kembali ke normal. Saat ini sudah banyak wisatawan yang datang, belum lagi Banyuwangi menjadi tuan rumah berbagai event, MICE nya juga sudah bergerak. Ini sangat menguntungkan kami,” kata Fifin. (rin/ian)






