Surabaya, (beritajatim.com) – Ludruk adalah bentuk seni drama tradisional yang berasal dari Jawa Timur dan memiliki sejarah yang panjang sebagai cerminan kehidupan masyarakat biasa. Berbeda dengan seni tradisional lainnya yang sering menonjolkan tema kerajaan atau mitos, Ludruk muncul dari masyarakat bawah dan terus-menerus menampilkan kenyataan sosial yang ada. Seni ini diyakini berasal dari tradisi Ludruk Bandhan pada abad ke-12 yang awalnya menonjolkan pertunjukan fisik, sebelum kemudian berubah menjadi sarana hiburan yang lebih dialogis dan mengandung unsur humor.
Perkembangan penting terjadi pada awal abad ke-20 dengan munculnya Lerok yang dipelopori oleh Pak Santik di Jombang. Dalam fase ini, pertunjukan dilakukan secara keliling atau ngamen dengan alat musik yang sederhana. Unsur komedi dan improvisasi menjadi daya tarik utama, di mana para aktor mulai menggunakan dialog spontan untuk berhubungan dengan penonton. Ini menandai peralihan Ludruk dari sekadar tontonan fisik menjadi seni pertunjukan yang mementingkan kekuatan berbicara dan kritik sosial yang ringan.
Di tahun 1920-an, kesenian ini berkembang menjadi Ludruk Besut, yang menghadirkan tokoh ikonik bernama Besut sebagai lambang kejujuran dan keberanian rakyat kecil. Pertunjukan mulai memiliki struktur yang lebih terorganisasi dan diperlihatkan di panggung-panggung umum. Melalui karakter Besut, para seniman Ludruk mulai menyisipkan pesan moral dan sindiran halus tentang kondisi sosial pada masa penjajahan, sehingga menjadikan seni ini lebih dari sekadar hiburan, tetapi juga sebagai suara aspirasi masyarakat.
Puncak pengaruh politik Ludruk terjadi pada periode pendudukan Jepang dengan tokoh legendaris Cak Durasim. Sebagai seniman yang visioner, ia memanfaatkan panggung Ludruk sebagai alat perlawanan dengan parikan atau pantun yang tajam. Sindiran terkenalnya mengenai penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang menjadikannya simbol perlawanan budaya. Keberanian Cak Durasim menunjukkan bahwa kesenian rakyat memiliki kekuatan signifikan dalam mempengaruhi opini publik dan menyalakan semangat patriotisme.
Struktur pertunjukan Ludruk yang dikenal sekarang biasanya dimulai dengan Tari Remo, dilanjutkan dengan atraksi bedayan, dagelan, dan diakhiri dengan lakon utama. Ciri khas yang paling terlihat adalah penggunaan bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran yang lugas serta tradisi aktor pria yang memerankan karakter wanita. Meskipun zaman terus berubah, Ludruk tetap menjaga identitasnya sebagai seni yang egaliter, dengan batas antara penonton dan pemain yang terasa tipis berkat komunikasi yang akrab.
Hingga kini, Ludruk terus berusaha relevan di tengah perkembangan budaya modern dengan menyesuaikan tema-tema kontemporer namun tetap menjaga esensinya. Keberadaan Ludruk bukan hanya sekedar warisan lama, tetapi juga cermin dari karakter masyarakat Jawa Timur yang jujur, kritis, dan memiliki selera humor yang tinggi. Melestarikan Ludruk berarti mempertahankan suara asli rakyat agar tetap didengar dalam sejarah budaya Indonesia. [Nickma Tsany Byan Leonartha]






