Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia perlu berinteraksi satu sama lain. Maka dari itu, ada berbagai interaksi yang mungkin terjadi, apalagi setiap manusia diciptakan dengan berbagai kepribadian. Disinilah, kita perlu sama-sama belajar untuk menempatkan diri dengan baik.
Salah satu hal yang perlu kita pelajari adalah Self-monitoring. Ini merupakan sebuah istilah mengenai ciri kepribadian yang menunjukkan cara mampu mengontrol citra dirinya saat berada di ruang publik pada berbagai situasi sosial. Pada tahun 1974, Mark Snyder mulai memperkenalkan teori ini. Dari situlah, muncul pernyataan jika seseorang memiliki self-monitoring tinggi termasuk pada golongan Social Chameleon.
Jadi, Social Chameleon adalah ciri seseorang yang mampu menyesuaikan diri sehingga dia termasuk pada golongan manusia fleksibel dan adaptif. Pasalnya orang seperti ini sangat mudah berbaur dengan berbagai situasi sosial. Mereka mengerti cara menempatkan diri dengan baik bahkan mampu memahami isyarat non-verbal dari orang lain. Hal inilah yang membuat mereka mampu berperilaku, bersikap dan berbicara pada orang lain dengan benar.
Bagi mereka yang termasuk Social Chameleon biasanya adalah orang yang ramah sehingga disenangi banyak orang. Tidak sedikit yang menginginkan menjadi Social Chameleon supaya mereka mampu menyesuaikan keadaan.
Kemampuan dari Social Chameleon dapat mengerti perilaku orang lain sehingga mereka dapat menyesuaikan dengan keinginan dari lawan bicara supaya adanya penerimaan yang diberikan. Kesan pertama yang mereka berikan sangat impresif. Saat itulah mereka sedang mencoba memahami orang itu atau mencari tahu apa yang sedang disampaikan sebelum terlalu cepat memberi respons. Tentu saja, dari satu orang lain akan mendapatkan perlakuan yang berbeda karena perbedaan kepribadian.
[berita-terkait number=”5″ tag=”resep”]
Seringkali Social Chameleon yang mudah diterima di lingkaran dan sikap ramahnya menjadikan mereka sebagai sosok pemimpin. Ciri lain dari Social Chameleon adalah sosok yang proaktif dalam memberikan solusi, bantuan maupun saran. Disamping itu, ,mereka nampak memiliki kharisma dan komitmen. Meskipun benar adanya, jika Social Chameleon terkadang mengalami kesulitan dalam mempertahankan hubungan dan komitmen ketika bekerja.
Bahayanya sebagai Social Chameleon terkadang mengalami ketidaksesuaian antara citra publik dan realitas pribadi sehingga besar kemungkinan mereka mengalami krisis identitas. Mereka mungkin akan berada pada fase memiliki ‘pribadi semu’, karena kepribadian terus berubah-ubah akibat kemampuannya membaca sikap orang lain. Maka dari itu, Social Chameleon perlu berhati-hati karena rentan dengan masalah-masalah eksternal dan mudah terpengaruh dengan tanggapan orang lain mengenai diri mereka sendiri. (ian)






