Surabaya (beritajatim.com) – Dekan Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Diana Rahmasari, menyebut puasa Ramadan memperkuat regulasi emosi. Praktik ini melatih kontrol diri dan ketahanan mental manusia secara signifikan.
Menurut Diana, puasa merupakan latihan regulasi diri yang komprehensif. Individu belajar menunda dorongan impulsif dan mengarahkan perilaku sesuai nilai luhur. Hal ini berkaitan erat dengan penguatan fungsi eksekutif pada otak manusia.
Kematangan tersebut membantu individu mengelola perasaan agar tetap adaptif meski sedang berada di bawah tekanan. “Puasa melatih otot kontrol diri agar semakin kuat dan stabil,” ujar Diana, Jumat (6/3/2026).
Ibadah ini turut meningkatkan distress tolerance atau kemampuan bertahan dalam situasi tidak nyaman. Ramadan mendorong munculnya kesadaran penuh (mindfulness) yang memungkinkan seseorang merespons stres secara lebih proporsional melalui proses refleksi diri.
Secara sosiopsikologis, Ramadan memperkokoh relasi sosial melalui kegiatan berbagi. Rasa keterhubungan sosial atau sense of belonging ini berperan vital sebagai penekan tingkat stres serta meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat secara luas.
Secara ilmiah, puasa memicu neuroplastisitas atau kemampuan otak membentuk koneksi baru serta memperkuat sinapsis antarsel saraf guna meningkatkan konsentrasi. “Kegiatan ibadah bersama memperkuat rasa keterhubungan sosial yang menekan stres,” tambahnya.
Proses tersebut mendukung ketangguhan otak dalam beradaptasi terhadap tekanan atau neurokompensasi. Selain edukasi mental, Fpsi Unesa juga menyosialisasikan layanan Day Care berbasis psikologi perkembangan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara profesional.
Meski puasa bermanfaat besar, Diana mengingatkan pentingnya konsultasi profesional bagi individu dengan kondisi psikologis tertentu. Penanganan ahli tetap menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas mental yang optimal selama bulan suci. [ipl/suf]






