Surabaya (beritajatim.com) – Sektor pendidikan di Jawa Timur pasca pandemi Covid-19 diklaim telah mengalami peningkatan cukup signifikan. Tentunya, dengan berbagai parameternya mulai dari turunnya tingkat pengangguran terbuka hingga beragam prestasi yang diraih oleh siswa asal Jatim.
Di bawah kepemimpinan Wahid Wahyudi, selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim (kini Plt, red), arah pendidikan di Jatim ditekankan pada tiga prioritas, yakni akademik, vokasi dan kewirausahaan, serta pembangunan karakter.
Ketiga prioritas tersebut, dinilai telah terbangun dengan baik. Buktinya, pada prioritas akademik, banyak siswa asal Jatim yang mampu menorehkan prestasi di even-even lomba nasional. Bahkan, selama tiga tahun berturut-turut Jatim mampu menjadi juara umum di olimpiade sains tingkat nasional.
BACA JUGA:
Massa Tuntut Wahid Wahyudi Mundur dari Kadindik Jatim
“Parameter akademik lain adalah olimpiade penelitian siswa Indonesia. Juara umumnya Jawa Timur,”ujar Wahid saat dijumpai beritajatim.com ditulis Kamis (13/4/2023).
Tak hanya itu, banyaknya siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri juga menjadi salah satu bukti meningkatnya sektor pendidikan di Jatim. Diketahui, pada seleksi nasional berdasarkan tes maupun prestasi, Jatim menjadi provinsi dengan siswa terbanyak diterima masuk perguruan tinggi negeri.
“Bahkan, di tahun 2023 ini yang diterima lewat jalur prestasi ada kenaikan yang luar biasa, naik 31,8 persen dibanding tahun 2022. Ini adalah parameter-parameter berkat kerja keras semua pihak, khususnya para guru untuk meningkatkan akademiknya,” ungkap Wahid.
Selanjutnya terkait pendidikan vokasi dan kewirausahaan. Wahid mengklaim jika pembelajaran vokasi dan kewirausahaan di Jatim cukup berhasil. Hal itu dibuktikan dengan turunnya angka tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK pada tahun 2022 hingga menjadi 5,19 persen.
BACA JUGA:
Perpanjangan Wahid Wahyudi Ditolak, Gubernur Usulkan Pj Sekdaprov Baru
Di tahun 2020, angka pengangguran lulusan SMK ada sebanyak 11,8 persen, dan berhasil ditekan hingga turun menjadi 6,7 persen. Artinya, pola pembelajaran vokasi dan kewirausahaan di Jatim mampu menurunkan pengangguran hingga sekitar 5,19 persen.
“Itu pun sebenarnya turunnya lebih besar riilnya. Karena lulusan SMK itu banyak yang freelance, dan freelance itu masih belum terakomodir dalam data BPS (Badan Pusat Statistik),” kata Wahid.
Kemudian soal pembangunan karakter. Salah satu prioritas pendidikan di Jatim, kata Wahid, adalah bagaimana mengantarkan masa depan anak didik lewat pembangunan karakter industri. Pada model pembelajaran ini, siswa dituntut minimal memiliki tiga karakter.
Pertama, setiap kerja harus terdapat target waktu. Sehingga siswa menjadi disiplin. Kedua, produk yang dihasilkan harus memiliki kualitas dan memenuhi standard. Ketiga, jumlah produk yang dihasilkan harus sesuai standard yang ditentukan.
BACA JUGA:
Kuatkan Program Doble Track, Dinas Pendidikan Gandeng Bank UMKM Jatim
“Jadi, tiga hal ini sudah terbangun dengan baik. Namun, karakter kan tidak hanya ini, banyak karakter-karakter lain. Karakter religius misalnya, kemandirian, gotong royong, integritas, ini kan juga harus terbangun,” jelas Wahid.
Di samping itu, sebenarnya hal yang patut diapresiasi adalah bagaimana Jatim mampu mencapai peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) lewat sektor pendidikan di tengah pandemi Covid-19. Sebagian pihak menyebut bahwa Jatim berhasil meningkatkan kualitas hidup masyarakat lewat IPM.
Artinya, janji kampanye Khofifah-Emil yang tercantum dalam Nawa Bhakti Satya melalui Jatim Cerdas menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatnya IPM di tahun 2022.
Namun, ada harapan khusus yakni bagaimana komitmen dalam mewujudkan Jatim Cerdas tersebut dapat terealisasi secara tepat. Hal itu seperti yang disampaikan oleh Sukadiono, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya sekaligus Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim beberapa waktu lalu. [ipl/suf]






