Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jatim menggandeng Bank UMKM Jatim kerjasama pengembangan dan penguatan program SMA Doble Track (DT).
Pendekatan pembelajaran berbasis kelompok usaha siswa (KUS) menjadi daya tarik dalam kerjasama ini.
Sebab, pada sistem belajar ini siswa dipersilahkan membentuk kelompok berdasar bidang keterampilan yang diikuti dan diberi nama KUS. Setidaknya ada 1.541 KUS yang sudah terbentuk. Diantaranya KUS Hunting Shoot, KUS Pixel SRD, KUS Sogun, dan KUS Couscous.
Kepala Dindik Provinsi Jatim Wahid Wahyudi menerangkan, pembentukan KUS dilakukan dalam rangka memacu siswa agar segera melakukan aksi nyata. Dalam kelompok kecil, antar siswa akan cepat solid dalam berkarya.
Kehadiran beberapa KUS di satu sekolah juga akan memunculkan kompetisi maupun kolaborasi yang sehat diantara mereka. Masing-masing KUS terpacu untuk menunjukkan eksistensi dan kemandiriannya.
“KUS ini mirip dengan UMKM, yang berbeda, pelakunya adalah siswa yang tergabung dalam program SMA DT,” ujar Wahid, Rabu (10/8/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”dindik-jatim”]
Dalam satu sekolah penyelenggara DT, lanjut Wahid, dapat dibentuk sejumlah KUS sesuai kebutuhan dan hasil kesepakatan siswa. Kelompok KUS biasanya memiliki anggota dengan keterampilan sejenis, misalnya kelompok tata boga atau kelompok tata busana.
“Tapi tidak menutup peluang KUS ini beranggotakan lintas bidang keterampilan. Umumnya KUS cenderung homogen, tetapi mereka tetap bersinergi dengan bidang lain bila membutuhkannya. Misalnya KUS tata boga minta bantuan kepada KUS desain grafis untuk dibuatkan kemasan produk dan desain mereknya,” urainya.
Wahid menambahkan, bahwa pada dasarnya KUS yang dibentuk, dilatih dan dikembangkan dalam program DT untuk memperoleh pendapatan dan kemandirian siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Mereka beranggotakan 5-6 siswa SMA Doble Track. Target setiap KUS dapat membuat rencana usaha yang diimplementasikan dan mampu membuat produk atau jasa, mengemas, dan memasarkannya baik secara online maupun offline,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Utama Bank UMKM Jatim Yudi Wahyu menuturkan Bank UMKM Jatim akan berperan dalam pembiayaan modal awal KUS. Jumlah pinjaman akan disesuaikan dengan kemampuan bisnis siswa.
“Anggaran (modal) masih menyesuaikan, intinya kami siap dalam pengembangan kewirausahaan dan kami wajib membina karena mereka ini tergolong start up,” tegasnya.
Namun, untuk range modal awal ini, Yudi mengatakan bisa saja berkisar dibawah Rp 10 juta atau bahkan hingga Rp 100 juta jika sudah memunculkan branding produk. Karenanya tidak semua KUS menerima modal awal. Yudi menyebut dari 1.541 KUS yang sudah ada, akan dilakukan seleksi kelayakan penerimaan modal.
“Kita lihat dulu kriterianya. Yang (KUS bisnis) sudah matang atau tambahan misalnya penjamin ada penyesuaian dulu. Karena belum detail ke usaha KUS nya,” terangnya.
Dilanjutkan Yudi, langkah kerjasama ini merupakan akselerasi yang patut diapresiasi. Karena menumbuhkan jiwa kewirausahaan dalam diri siswa. Tak hanya itu, kerjasama Dinas Pendidikan Jawa Timur dan Bank UMKM Jatim menjadi sinergi yang luar biasa karena akan banyak program yang akan disinergikan kedepannya.
“Baik yang punya mitra dengan bank UMKM, dan siswa punya pemahaman tentang kemandirian ekonomi, untuk pasar nya akan kita bantu,” jelasnya.
Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 2 hingga 3 KUS yang sudah terealisasi mendapatkan pendanaan bank UMKM. “Yang penting sudah ada data dulu, ada pengajuan, termasuk dalam jasa services motor kita juga akan mencarikan motor dan sebagainya. Termasuk di komoditas. Jadi mudah-mudahan ini langkah awal untuk anak-anak bisa berwirausaha,” tandasnya. (ipl/ted)






