Surabaya (beritajatim.com)- Dalam khazanah kuliner Nusantara, khususnya di wilayah Jawa Timur, kolak telah lama mengukuhkan posisinya sebagai sajian yang tak terpisahkan dari ritual berbuka puasa. Meskipun tren kuliner modern silih berganti menawarkan berbagai minuman estetik dan kekinian, kolak tetap berdiri kokoh sebagai sajian yang paling dicari.
Fenomena ini tentu mengundang pertanyaan bagi kita semua: Apa yang sebenarnya membuat kolak begitu istimewa dan tak tergantikan di meja makan masyarakat? Bagi Anda penggemar setia kolak pisang, mungkin selama ini Anda hanya menikmatinya sebagai pelepas dahaga atau pengganjal perut setelah seharian menahan lapar. Namun, hm… pernahkah Anda merenungkan fakta di balik semangkuk kolak yang sebenarnya?
Di balik kombinasi rasa manis dan gurihnya, tersimpan sebuah narasi filosofis yang jauh melampaui sekadar urusan pemuas indra perasa.
Sejarah mencatat bahwa kolak bukan sekadar produk kuliner hasil kreativitas dapur, melainkan media dakwah yang sangat efektif bagi para pendahulu kita. Secara etimologi, nama “Kolak” diyakini berasal dari serapan bahasa Arab, Khalaqa (Menciptakan) atau Khalik (Sang Pencipta).
Melalui semangkuk takjil, masyarakat sebenarnya sedang diajak untuk sejenak berhenti dari rutinitas duniawi dan kembali mengarahkan batin kepada Sang Pencipta di momen transisi antara siang dan malam.
Setiap komponen yang terendam dalam kuah santan tersebut pun memiliki simbolisme yang mendalam. Mari kita bedah mulai dari penggunaan Pisang Kepok. Masyarakat Jawa mengenal istilah Kapok, yang secara naratif menjadi simbol pengingat agar manusia merasa jera atau bertaubat dari kesalahan masa lalu.
Pisang ini bukan sekadar dipilih karena teksturnya yang tidak mudah hancur, melainkan membawa pesan moral tentang kesadaran diri. Tak berhenti di situ, komponen ubi atau telo yang tumbuh di dalam tanah melambangkan istilah pendem atau mengubur. Ini adalah sebuah ajakan halus bagi siapa saja yang menyantapnya untuk mengubur kesalahan dan ego dalam-dalam sebelum melangkah ke lembaran yang baru. Sementara itu, santan yang gurih sering kali dianalogikan sebagai Pangapunten atau simbol permohonan maaf yang tulus kepada sesama.
Dengan demikian, setiap suapan kolak yang Anda nikmati sejatinya adalah sebuah “paket lengkap” refleksi diri. Kolak menjadi jembatan antara kebutuhan biologis dan kebutuhan spiritual manusia. Inilah yang menjadikan kolak tetap bertahan sebagai tokoh utama di puncak kasta kuliner Ramadan, bahkan ketika selera masyarakat mulai bergeser ke arah kuliner global yang serba instan.
Daya tarik magis pada tekstur pisang yang empuk dan legitnya gula aren tetap menjadi pemenang di hati masyarakat Jawa Timur karena kemampuannya memanggil kembali memori kolektif. Ia mengingatkan kita pada keriuhan dapur ibu atau suasana hangat berbuka di masjid kampung yang tidak bisa digantikan oleh kemasan minuman botolan manapun. Ada rasa kepemilikan budaya yang kuat di setiap mangkuknya.
Pada akhirnya, kolak adalah cermin sederhana tentang bagaimana kita memandang perjalanan hidup: sebuah perpaduan antara rasa manis syukur, gurihnya maaf, dan lembutnya taubat. Ia mengajarkan bahwa untuk mencapai rasa yang “pas”, diperlukan kesabaran dalam proses memasak dan keikhlasan dalam menerima setiap isian yang ada, baik itu manis maupun sedikit sepat.
Mungkin, saat Anda memegang mangkuk kolak sore nanti, Anda akan tersadar bahwa sajian ini bukan hanya tentang mengakhiri rasa lapar. Ia adalah simbol untuk memulai kembali kehidupan dengan jiwa yang lebih bersih dan tenang. Sebagai penikmat setia, sudahkah Anda benar-benar menghayati esensi “kapok” di dalam mangkuk tersebut, atau selama ini Anda hanya sekadar mengejar rasa kenyang sementara? [Devi Dwi Windah Sari]






