Madinah (beritajatim.com) – Novem Bill Ichtiar, remaja asal Yogyakarta, menjadi bukti nyata bahwa niat suci yang dipupuk sejak dini mampu menembus batas waktu 14 tahun penantian.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia berdiri tegak di Madinah sebagai buah dari kegigihan sang ayah yang telah mendaftarkannya sebagai calon jemaah haji sejak ia masih balita berusia tiga tahun.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, di tengah riuh jemaah yang mayoritas telah berambut perak, kehadiran Novem adalah pemandangan yang menyegarkan sekaligus mengharukan. Ia adalah personifikasi dari sebuah rencana langit yang disusun rapi oleh cinta seorang ayah di bumi.
Subur Adi Cahyono, pria yang sehari-hari berkutat dengan presisi sebagai tekniker gigi di Yogyakarta, adalah arsitek di balik keberangkatan putra bungsunya ini. Baginya, mendaftarkan Novem pada tahun 2012 bukan sekadar soal administrasi, melainkan upaya memberikan “stamina terbaik” untuk menghadap Sang Pencipta.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, sehingga saya sebagai orang tua bisa memfasilitasi anak untuk menunaikan rukun Islam yang kelima,” ujar Subur dengan mata berkaca-kaca di bawah langit Madinah.
Investasi Langit Seorang Tekniker Gigi
Subur yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Teknikan Gigi di Yogyakarta ini memahami betul bahwa haji adalah ibadah fisik yang menguras peluh. “Karena haji itu bukan hanya soal ongkos, tapi juga tenaga yang harus ekstra. Jadi saya ingin anak saya berangkat saat stamina masih benar-benar fit,” jelasnya.
Prinsip hidupnya sederhana namun kokoh: menyisihkan, bukan menyisakan. Setiap hari, dari setiap rupiah yang ia hasilkan, ada porsi yang tak boleh diganggu gugat untuk ibadah. Komitmen itu dijaganya selama belasan tahun, memastikan dana yang diniatkan untuk kebaikan tidak pernah tersentuh kepentingan lain.
Bagi Subur, haji muda adalah solusi. Ia menyaksikan sendiri bagaimana ribuan jemaah harus berjalan berkilo-kilo meter setiap hari di tengah cuaca ekstrem yang kini mencapai 39-42 derajat Celsius. Stamina remaja 17 tahun adalah bekal yang ia siapkan agar Novem bisa beribadah dengan lebih khusyuk dan maksimal.
Doa untuk Ibu di Antara Sujud
Novem, yang kini telah bertransformasi dari balita tiga tahun menjadi remaja enerjik, menjalani setiap tahapan manasik dengan penuh kesungguhan. Ia tidak membuang peluang emas yang telah dibukakan oleh ayahnya. “Alhamdulillah senang. Persiapannya ikut manasik haji, jaga kesehatan dan stamina, semuanya diarahkan oleh ayah,” ungkap Novem dengan gaya khas Gen Z yang sopan.
Di balik rona bahagianya, terselip sebuah harapan tulus bagi sang ibu yang belum bisa menemaninya di tahun ini. Di antara hembusan angin kering Madinah, Novem melangitkan doa sederhana namun mendalam: “Buat ibu, semoga selalu sehat dan panjang umur.”
Pesan Subur pun menggema bagi generasi muda lainnya agar tidak menunda-nunda panggilan suci. Baginya, haji bukan sekadar “pensiun spiritual,” melainkan perjalanan fisik yang menuntut kekuatan mental dan energi yang bugar.
Pelayanan dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) yang ia nilai semakin memuaskan tahun ini menjadi pelengkap indah bagi perjalanan religi sang anak yang dimulai dari sebuah punggung kecil berusia tiga tahun. [ian/MCH]






