Banyuwangi (beritajatim.com) – Keterbatasan tak menyurutkan niat menuju kebaikan. Ahmad Nadhif menunjukkan itu, seraya membukakan mata semua untuk turut berlomba dalam kebaikan.
Langkah itu Ia tunjukkan dengan talenta dan bakat luar biasa. Usianya masih 8 tahun tapi Nadhif sudah hafal Al-Qur’an 30 Juz.
Hebatnya lagi, dia menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sejak usianya tujuh tahun lebih dua bulan. Itu pun dihafalkannya dalam rentang waktu tak genap satu tahun.
Keterbatasan fisik dan gangguan pada suaranya tak menyurutkan bocah asal Desa Tegaldlimo, Banyuwangi itu untuk menghafal dan melantunkan kalam ilahi.
Tak ayal berkat talentanya ini dapat mengantarkannya mengikuti ajang lomba tahfidz di salah satu televisi nasional yang tayang Ramadan ini. Kehadirannya memukau banyak kalangan.
Dia secara langsung mendapat undangan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Tak hanya ucapan, apresiasi tapi juga menginspirasi.
“Adik Nadhif ini menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua. Bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi kita, dalam situasi dan kondisi apapun,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat bertemu Nadhif pada acara Festival Al-Qur’an.
Saat ini, Ahmad Nadhif masih duduk di kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatus Syibyan Tegaldlimo. Dia bangga dapat bertemu orang nomor satu di pemerintahan Banyuwangi itu.
“Bisa dibuka maskernya, Bu?,” pinta bocah kelahiran 1 April 2014 itu saat bertemu dengan Bupati Ipuk.
Jawaban seketika juga terucap dari Bupati Ipuk. “Pingin tahu wajahnya bunda, ya?” jawab Ipuk. “Oke, karena sudah tak banyak orang, saya buka,” ungkapnya.
Nadhif pun sumringah. Rasa penasarannya untuk melihat langsung wajah pemimpin Banyuwangi itu terwujud. “Saya senang bisa di sini,” ungkapnya polos.
Sementara itu, Kiai Muhammad Thohir, ayahanda Nadhif, yang mendampinginya menceritakan bahwa anaknya tersebut mulai menghafalkan Al-Qur’an sejak berusia 6,5 tahun. Hampir setiap hari bisa menghafalkan beberapa lembar ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Kami menerapkan pola hafalan secara klasikal. Membacanya bersama-sama dan kemudian setoran satu per satu,” ungkap ayahnya yang sekaligus sebagai pengasuh Pesantren Tahfidz Sunan Kalijogo, Tegaldlimo itu.
Thohir mengaku cukup memberikan kelonggaran pada putranya tersebut. Nyaris ia tak memaksakannya. Seperti halnya tatkala waktunya bermain, kedua orangtuanya mempersilakan buah hatinya itu untuk bermain.
“Tapi, karena lingkungannya di pondok, banyak teman-teman seusianya yang menghafalkan Al-Qur’an, jadi ya tetap kondusif untuk menghafalnya,” ungkap kiai lulusan Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri itu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”banyuwangi”]
Di pesantren yang diasuhnya tersebut, terang Thohir, ada sekitar 50 santri anak-anak yang tinggal untuk menghafal Al-Qur’an. Serta tak kurang dari 150 santri lainnya yang hanya belajar dan menghafal, tapi tinggal di luar pondok.
“Terciptanya lingkungan inilah yang saya kira berpengaruh dalam mempercepat hafalan,” ujar Thohir yang mulai merintis pesantren sejak empat tahun silam itu.
Saat ini, di pesantren tahfidz tersebut, tak kurang dari 7 santrinya yang telah hafal 30 juz. Bahkan di antaranya masih duduk di bangku kelas 5 hingga 6 sekolah dasar.
“Pada tahun kemarin, kita mulai merintis boarding school. Sehingga nantinya bisa terintegrasi antara program tahfidz dan pendidikan formalnya,” pungkas Thohir. [rin/but]







