Malang (beritajatim.com) – Melambungnya harga cabai rawit menjadi penyebab utama inflasi di Kota Malang selama bulan Maret 2022. Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang daerah ini mengalami inflasi sebesar 0,63 persen.
Inflasi Maret tahun ini lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya pada periode yang sama. Pada Maret tahun 2022 Kota Malang tercatat mengalami deflasi -0,41 persen. Tetapi angka inflasi Kota Malang masih lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 0,77 persen dan nasional 0,66 persen.
“Sedangkan pada Maret tahun 2021 lalu Kota Malang mengalami inflasi 0,08 persen. Jadi bisa dikatakan inflasi Maret tahun ini tertinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya,” kata Kepala BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini, Senin, (4/4/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”inflasi”]
Erny memaparkan kenaikan harga cabai rawit sebesar 49,21 persen memiliki andil sebesar 0,09 persen terhadap inflasi. Selanjutnya disusul kenaikan komoditas emas perhiasan sebesar 6,74 persen dengan andil 0,06 persen. Untuk kenaikan harga emas dipengaruhi harga emas dunia, sekaligus menjelang puasa dan lebaran harga emas cenderung naik.
Lalu ada momoditas lain penyebab inflasi yakni kenaikan harga telur ayam ras naik 11,64 persen dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen, kenaikan harga mobil 2,56 persen, dan kenaikan harga cabai merah sebesar 68,18 persen.
“Komditas tempe juga mengalami kenaikan harga 7,8 persen. Selanjutnya kenaikan tarif angkutan udara, teh siap saji, bahan bakar rumah tangga, dan kenaikan harga gula pasir,” imbuhnya..
Untuk komoditas yang mengalami deflasi atau menjadi penghambat inflasi meliputi penurunan harga daging ayam ras mengalami sebesa minus 1,18 persen, penurunan harga ikan tongkol sebesar minus 19,28 persen, buah melon minus 12,49 persen, batu bata minus 5,82 persen, dan udang basah minus 2,89 persen.
“Komoditas lain yang mengalami penurunan harga adalah ikan mujair, beras, sawi hijau, kentang dan cumi-cumi,” tuturnya.
Sementara berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memiliki andil 1,49 persen terhadap inflasi. Kemudian disusul kelompok makanan minuman dan tembakau 1,41 persen, transportasi 0,75 persen, kelompok pakaian dan alas kaku 0,63 persen.
“Untuk kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga memiliki andil 0,53 persen. Kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran 0,28 persen, kelompok kesehatan 0,22 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,20 persen listrik. Kelompok perumahan, air dan bahan bakar rumah tangga 0,02 persen. Untuk kelompok pendidikan tidak memiliki andil alias 0 persen, sementara kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami deflasi minus 0,03 persen,” tandasnya. (luc/kun)






