Gresik (beritajatim.com)- Kasus penderita HIV di Kabupaten Gresik ibarat bola salju. Kendati saat ini trennya menurun. Namun, usia rentan mayoritasnya didominasi usia produktif 25 tahun ke atas.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Gresik, dr Puspitasari Wardani mengatakan, selain usia produktif yang rentan terkena HIV. Kelompok laki suka laki (LSL) menjadi penyumbang terbesar dibanding penyebab lainnya termasuk narkoba.
“Kelompok LSL mencapai persentase 18 persen, diikuti pasangan ODHIV sebesar 12 persen, TB–ODH 11 persen, pasangan berisiko tinggi (RISTI) 11 persen, dan pelanggan pekerja seks 10 persen,” katanya, Rabu (3/12/2025).
Masih menurut dr Puspita Wardani, selain kelompok diatas. Kelompok wanita pekerja seks (WPS), ibu hamil, calon pengantin, anak ODHIV, IMS, pengguna narkoba suntik, dan transgender rentan terkena HIV.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, dr Mukhibatul Khusnah menjelaskan hingga Agustus 2025 terdapat 197 kasus baru Aids di Gresik. Sementara tahun 2024 tercatat sebanyak 298 kasus.
“Jumlah kasus baru HIV di Gresik menunjukkan angka penurunan, meski tetap harus diwaspadai bila dibandingkan tahun lalu. Ada penurunan kasus namun ini belum final,” paparnya.
Terkait dengan ini lanjut dia, pentingnya edukasi masyarakat karena banyak yang belum memahami perbedaan HIV dan AIDS.
“HIV adalah virus, sedangkan AIDS adalah kondisi ketika penderita mulai menunjukkan gejala berat seperti penurunan berat badan drastis atau infeksi serius. Yang penting pencegahannya. Sebab, sekali orang yang terkena HIV itu dia tidak akan bisa lepas dari obat,” urainya.
Ia menambahkan, penularan HIV hanya melalui darah, hubungan seksual tidak aman, dan penggunaan jarum suntik secara bergantian.
“Bila terkena HIV tidak bisa lepas dari obat. ARV hanya mengendalikan virus, bukan membunuhnya. Beda dengan TB yang bisa selesai dalam 6 bulan. ARV harus diminum seumur hidup, dan obat ini juga punya efek samping,” imbuhnya.
Dinkes Gresik terus memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi dan perluasan cakupan layanan kesehatan.
“Kami rutin memberikan sosialisasi tentang pencegahan dan pengobatan HIV dengan menggandeng seluruh puskesmas. Selain itu, kami aktif melakukan penemuan kasus melalui Mobile VCT bersama puskesmas,” pungkas dr Mukhibatul Khusnah. (dny/ted)






