Kediri (beritajatim.com) – Sulastri (43) ibu korban dugaan pembunuhan yang mayatnya dalam karung di Kediri memberikan kesaksian.
Menurut Sulastri, ia terakhir kali bertemu dengan korban di rumah orang tuanya Maryono di Desa Banggle, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pada Rabu sing (5/7/2023).
Sudah menjadi kebiasaan DL, selalu pulang ke rumah kakeknya saat istirahat siang. Dia bekerja pada sebuah tempat photo copy di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih.
“Saya ketemu pada Hari Rabu siang. Kemudian saya pergi ke Blitar,” ungkap Sulastri, pada Minggu (9/7/2023).
Baca Juga : Mayat dalam Karung di Kediri, Keluarga Curigai Sosok Ini
Sulastri diajak suaminya takziah ke Blitar. Baru keesokan paginya dia dijemput oleh suaminya. Mereka tiba di rumah Maryono, pada Kamis (6/7/2023) sekitar pukul 07.00 WIB.
“Suami saya bilang, tidak usah mencari anak saya, karena sudah bekerja di Lamongan,” aku ibu satu anak itu.
Sulastri tidak menaruh curiga apapun. Dia juga percaya bahwa DL memang telah mendapat pekerjaan baru di Lamongan sebagaimana cerita suaminya.
Apalagi pagi itu, SP pamit untuk pergi ke Lamongan untuk mengantarkan sejumlah pakaian korban.
Baca Juga : Identitas Mayat dalam Karung di Kediri Terungkap, Perempuan 20 Tahun
Sang suami buru-buru pergi dengan menaiki sepeda motor Honda Beat yang biasa dipakai DL bekerja.
“Sepeda motor itu pinjam pakai. Biasanya dipakai korban bekerja di tempat photo copy,” aku Bahrodin, paman korban yang tinggal bersebelahan dengan rumah Maryono.
Sampai akhirnya korban ditemukan meninggal dunia di area persawahan Desa Bulu Pasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, pada Sabtu pagi (8/7/2023).
Korban ditemukan meninggal secara tidak wajar. Mayatnya didalam karung dengan kondisi tangan terikat dan bagian kepala mengalami pembusukan.
Baca Juga : Wajah Mayat Dalam Karung di Kediri Rusak dan Sulit Dikenali
Tak heran apabila Sulastri pun menaruh curiga pada sang suami dalam kasus kematian putri semaya wayangnya ini. Apalagi SP hingga kini belum ditemukan.
“Sampai hari ini ayahnya belum ditemukan. Dia membawa sepeda motor Honda Beat itu dan HP milik korban,” imbuh Bahrodin.
Sebagimana diketahui, sejak kecil DL tinggal dan diasuh oleh kakeknya Maryono di Desa Banggle, Ngadiluwih. Pun demikian dengan ibunya Sulastri.
Sementara ayah korban tinggal di rumah saudaranya di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Alasannya, SP ikut kerja dengan saudaranya sebagai pengantar telur ayam. [nm/ted]






