Jombang (beritajatim.com) – Mahfud MD menghadiri haul ke-14 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang digelar di pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, Sabtu (6/1/2023) malam. Dalam acara itu, Mahfud diberi kesempatan untuk memberikan testimoni.
Karena Mahfud dikenal sosok yang dekat dengan presiden ke-4 RI tersebut. Bahkan, saat Gus Dur menjabat sebagai presiden, Mahfud diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Mahfud banyak belajar dari Gus Dur.
Menurutnya, Gus Dur adalah salah satu dari empat tokoh dunia setelah abad ke-19, yang kematiannya ditangisi oleh jutaan rakyat. Pertama adalah tokoh dari India Mahatma Gandhi (wafat 30 Januari 1948), kemudian Presiden Amerika Serikat JF Kennedy (wafat 22 Novmber 1963), lalu ketiga pemimpin revolusi Iran Ayatullah Khoemaeni (wafat 3 Juni 1989).
“Setelah itu muncul dari Indonesia. Yakni, ketika 30 Desember 2009, KH Abdurrahman Wahid wafat. Beliau ditangisi oleh jutaan rakyat. Saya melihatnya sendiri. Mulai dari rumah sakit, di Ciganjur, hingga mengantar jenazah Gus Dur dari Jakarta ke Jombang ini,” kata Mahfud MD.
Sepanjang jalan, rakyat menangisi Gus Dur. Seluruh rakyat Indonesia berduka. Di sepanjang jalan rakyat melantunkan doa, ada yang menangis, anak-anak sekolah melambaikan bendera. “Orang berteriak histeris. Gus Dur..Gus Dur,” kata Menko Polhukam ini.
Bahkan hingga 14 tahun meninggalnya, Gus Dur tetap ‘ditengok’ oleh rakyatnya. Setiap hari ribuan orang mendatangi makam Gus Dur untuk berziarah. Bukan dari kalangan muslim, tapi lintas agama. “Gus Dur adalah pemimpin yang selalu dikenang,” katanya.
Mahfud lalu bercerita tentang drama pelengseran Gus Dur dari kursi kepresidenan pada 2001. Namun Gus Dur kukuh mempertahankan prinsip. Bagi Gus Dur, demokrasi bukan pasar, bukan tukar menukar jabatan. Tapi demokrasi adalah menjalankan pemerintah sesuai dengan konstitusi.
Saat dilengserkan dari kursi presiden, lanjut Mahfud, Gus Dur merupakan panglima tertinggi TNI. Kapolri juga langsung di bawah presiden. Tapi Gus Dur tidak memanfaatkan TNI-Polri dan aparatur sipil negara lain untuk membela diri.
“Gus Dur tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk mengambil keuntungan. Bagi Gus Dur tidak ada jabatan yang layak dipertahankan hingga meneteskan darah. Gus Dur ingin negara demokrasi yang sesuai dengan konstitusi,” pungkasnya.
Selain Mahfud MD, sejumlah tokoh juga hadir dalam haul ke-14 Gus Dur. Di antaranya, Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D. atau yang akrab dipanggil Gus Nadir. Pria kelahiran 8 Desember 1973 adalah Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand.
Kemudian Wagub Jatim Emil Dardak, serta undangan lainnya. Masyarakat umum juga memadari pesantren Tebuireng Jombang untuk melantunkan tahlil dan doa. Keluarga Gus Dur juga nampak hadir, yakni Yenny Wahid, kemudian adik kandung Gus Durm dr Umar Wahid.
Seperti diketahui, Gus Dur tutup usia pada Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo, Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang.
Makam tersebut satu lokasi dengan makam kakeknya, KH Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama serta ayahandanya KH Wahid Hasyim, yang juga tokoh negara sekaligus Pahlawan Nasional. [suf]






