Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menemukan formulasi untuk menurunkan kadar senyawa nitrit pada hasil sarang walet. Temuan ini membuat para pelaku UMKM walet di Indonesia optimis bisa mendobrak pasar internasional, khususnya pasar Cina.
Pemilik CV Dwi Anugerah Surabaya, Bing Haryanto mengatakan, selama ini, pihak pengusaha pembersihan sarang walet kesulitan untuk menembus pasar Cina lantaran ada berbagai standar yang diterapkan oleh pemerintah Cina untuk produk sarang walet yang masuk. Salah satunya kadar nitrit harus dibawah 30 ppm.
“Sebelumnya kan kadar Nitritnya produk kita ini bisa tembus 200 ppm, tergantung kita ambil dari mana kan. Nah untuk mengelola hingga sesuai standar ekspor ke Cina itu perlu bangunan khusus yang harganya bisa belasan Milyar. Namun, teman-teman dari Unesa ini mampu membuat formula yang bisa menurunkan kadar Nitrit dengan murah,” ujarnya saat diwawancarai Beritajatim, Selasa (06/12/2022).
Selain mampu membuat kadar Nitrit sesuai dengan standar ekspor ke Cina, peneliti dari mahasiswa Unesa juga memberikan standar-standar pengolahan sarang walet dengan efisien dan murah. Sehingga, mampu membantu UMKM.
“Jadi berkat adanya Unesa melakukan penelitian tentang kandungan sarang burung walet, baik sebelum dicuci atau setelah dicuci, penelitian tersebut sangat signifikan dan membantu saya untuk melakukan pembelian bahan baku yang tepat, murah dan efisien,” imbuhnya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kimia Unesa, Prof. Dr. Nita Kusumawati yang mendampingi para mahasiswa melakukan penelitian mengatakan, jika dalam penelitian yang dilakukan sejak Agustus hingga Desember 2022 ini, pihaknya banyak memberikan masukan supaya para UMKM bisa menembus pasar internasional, khususnya pasar Cina.
“Sebenarnya CV. Dwi Anugrah ini sudah eksis, sudah ekspor ke beberapa negara, ini hanya perlu perbaikan sedikit saja. Kami membantu untuk para pelaku UMKM bidang ini untuk menurunkan kadar nitrit, supaya sesuai dengan standar di pasar Cina,” katanya Nita Kusumawati.
Penelitian yang dilakukan selama 5 bulan ini, kata Prof. Nita, pihaknya berhasil menurunkan kadar nitrit hingga di bawah 30 ppm dengan harga yang cenderung lebih terjangkau.
“Belakangan ada kasus cemaran nitrit yang hingga mengakibatkan kematian itu, akhirnya Cina lebih mengetatkan prosedurnya. Dengan formula kami, kadar nitritnya sudah di bawah 30 ppm,” tambahnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unesa”]
Meski demikian, Prof. Nita menyebut adanya kekurangan dari para pengusaha sarang walet di Indonesia. Menurutnya, bahan baku yang didapat dari pengusaha tidak bisa asal ambil dari para pengepul lantaran, lokasi peternakan juga mempengaruhi. Namun, dengan formula yang ditemukan oleh mahasiswa Unesa, berbagai bahan baku bisa disamakan kadar Nitritnya.
“Bahan baku yang masuk ke sini kan variatif. Sehingga ada yang sudah bagus, ada yang masih banyak kotorannya, ada juga yang kadar nitritnya masih tinggi,” jelasnya. [ang/but]






