Malang (beritajatim.com) – Kreativitas mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) kembali mendapat sorotan nasional. Siti Mutmainnah, mahasiswa Program Studi S1 Tata Boga UM, sukses meraih juara dua dalam ajang Food Plating Competition yang digelar oleh Luwes Ngawi pada beberapa waktu lalu.
Kompetisi ini menantang peserta untuk menciptakan hidangan berbahan dasar ayam dengan tampilan yang artistik dan menggugah selera. Siti tampil memukau dengan menu Roulade Chicken with Rujak Sauce & Subut Rice, sajian yang memadukan cita rasa Kalimantan dan Malang.
Uniknya, ia mengganti asam jawa dalam saus rujak dengan apel Malang, sebagai bentuk inovasi sekaligus penegasan identitas lokal. “Ini bukan sekadar makanan, tapi karya yang menggabungkan rasa, estetika, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Menurut Siti, keberhasilannya bukan hanya soal teknik memasak, tetapi juga kemampuan menyajikan makanan secara visual. “Di jurusan Tata Boga, kami tidak hanya belajar memasak, tapi juga menyajikan makanan secara estetis. Kompetisi ini menjadi ajang menguji kemampuan plating kami,” jelasnya.
Persiapannya terbilang singkat, hanya dua minggu, namun berkat dukungan dosen dan teman-teman, ia mampu tampil percaya diri. Meski sempat meragukan kemampuan diri, Siti membuktikan bahwa estetika plating dan pemilihan bahan lokal dapat menciptakan kesan yang kuat pada juri dan penikmat kuliner.
Lebih dari sekadar prestasi, keberhasilan Siti juga merepresentasikan komitmen terhadap prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Penggunaan bahan lokal seperti apel sebagai pengganti bahan impor menunjukkan kesadaran akan keberlanjutan pangan dan kekayaan lokal.
Tak hanya soal kompetisi, pencapaian ini juga menjadi refleksi lebih luas tentang bagaimana kuliner bisa menjadi ekspresi budaya dan sejarah, seperti yang tergambar dalam film Resep Rahasia Ressa karya Hanung Bramantyo. Film ini menampilkan perjalanan karakter Ressa dalam memahami kembali warisan kuliner tradisional lewat buku Mustika Rasa, kompendium resep Nusantara yang disusun oleh Presiden Soekarno dan istrinya, Hartini.
Film tersebut menampilkan visual masakan yang menggoda, dari dapur modern hingga warung tradisional. Namun, dari sisi naratif, kritik muncul karena penyelesaian konflik terasa terlalu cepat dan beberapa tokoh tampak karikatural. Meski demikian, sinematografi dan visual masakan tetap menjadi kekuatan utama film ini, menegaskan bahwa dalam kuliner, rasa dan visual adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Pencapaian Siti Mutmainnah dalam dunia nyata maupun refleksi budaya dalam film menunjukkan bahwa kuliner bukan hanya soal rasa, tapi juga cara menyampaikan identitas, sejarah, dan keberlanjutan. Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tak takut gagal dan terus mencoba.
“Teruslah mencoba hingga masa gagalnya habis di usia muda,” pungkasnya, mengutip pesan sang guru di SMK. (dan/but)






