Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengajarkan pembuatan pupuk cair organik kaya NPK dan teknik hidroponik vertikal kepada ibu-ibu PKK di Desa Tambakrejo, Sidoarjo. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk mendorong kemandirian pangan keluarga di wilayah perkotaan.
“Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan seperti Sidoarjo bukan lagi hambatan untuk bertani. Melalui sistem vertikal hidroponik dan NFT, kita bisa memaksimalkan ruang sempit,” ujar Dosen Pembimbing KKN ITS, Haniffudin Nurdiansah, S.T., M.T., Rabu (26/11/2025).
Pelatihan ini mengusung materi pembuatan pupuk cair organik kaya unsur NPK yang cocok untuk aplikasi Nutrient Film Technique dan sistem hidroponik vertikal. Puluhan anggota PKK RT 01 RW 05 Desa Tambakrejo mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias sejak awal sampai akhir.
“Keberlanjutan sistem hidroponik sangat bergantung pada nutrisi yang berkualitas, oleh karena itu penting bagi ibu-ibu untuk memahami cara membuat pupuk cair organik dan nutrisi AB Mix secara mandiri,” kata Haniffudin.
Para peserta diajari mengolah limbah rumah tangga dan bahan lokal menjadi pupuk cair organik yang aman bagi lingkungan. Selain itu, ibu-ibu dibekali teknik meracik nutrisi AB Mix agar biaya produksi tanaman bisa ditekan.
“Kami ingin ibu-ibu mampu memproduksi nutrisi sendiri dengan biaya murah, tetapi tetap berkualitas untuk tanaman hidroponik,” tutur Haniffudin.
Praktik lapangan menjadi bagian penting dalam kegiatan ini untuk memastikan peserta benar-benar memahami prosesnya. Para ibu PKK terlihat teliti memindahkan bibit sayuran ke dalam net pot pada instalasi hidroponik vertikal yang disediakan mahasiswa.
“Saya sangat senang mengikuti pelatihan ini karena sebelumnya saya ingin belajar budidaya di lahan sempit, tetapi bingung memulai. Sekarang saya jadi lebih percaya diri mencoba hidroponik di rumah,” ujar Uni Kartika Mahardani, salah satu peserta.
Sebagai dukungan lanjutan, tim mahasiswa juga memberikan satu set alat hidroponik vertikal beserta nutrisi pupuk untuk dikembangkan di rumah masing-masing. Harapannya, pelatihan ini berlanjut menjadi praktik yang berkelanjutan.
“Dengan adanya bantuan alat ini, kami berharap ibu-ibu bisa langsung mempraktikkan dan merasakan manfaatnya,” kata Ketua KKN, Emir Chaesa Prayitno.
Program ini sekaligus membuka peluang usaha rumahan berbasis pertanian hidroponik bagi peserta. Hasil panen ke depan diharapkan bisa dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga dan memiliki nilai jual.
“Kalau dikelola dengan baik, hasilnya bisa menambah penghasilan keluarga sekaligus mendukung kemandirian pangan,” ujar Haniffudin.
Kegiatan KKN tersebut menjadi bukti komitmen ITS dalam menyalurkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Mahasiswa diharapkan bisa membawa teknologi tepat guna agar persoalan pangan di wilayah perkotaan mendapat solusi yang efektif.
“Kami ingin teknologi yang dipelajari di kampus benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkas Haniffudin. [asg/kun]






