Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 22 mahasiswa dari berbagai negara Asia berkumpul di Surabaya untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 dengan cara yang unik dan berkesan. Mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian acara Airlangga Summer School, yang diadakan di Balai Pemuda Surabaya, Gedung Galeri Dewan Kesenian Surabaya, pada Sabtu (17/08/2024).
Pada momen spesial ini, mahasiswa dari ietnam, Filipina, Pakistan, dan lainnya itu diberi kesempatan untuk lebih mengenal salah satu kesenian tradisional Jawa Timur yang terkenal, yaitu kesenian Jaranan. Kegiatan dimulai dengan pemaparan tentang filosofi dan sejarah Jaranan, yang disampaikan dengan penuh semangat oleh para ahli budaya.
Tri Suryanto, Ketua BN Setaloka Hiprejs Jatim dan penggagas acara ini, menjelaskan bahwa dipilihnya Jaranan sebagai media pembelajaran budaya Indonesia bukan tanpa alasan. “Jaranan bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga merupakan cerminan jiwa bangsa kita,” ujarnya. Tarian yang menggabungkan unsur mistis, seni bela diri, dan musik gamelan ini dianggap mampu memberikan gambaran yang mendalam tentang nilai-nilai luhur masyarakat Jawa.
Tri Suryanto juga mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme para peserta. “Saya sangat senang melihat antusiasme para mahasiswa asing terhadap Jaranan. Ini membuktikan bahwa seni dan budaya kita mampu menarik minat generasi muda dari berbagai belahan dunia. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi mereka untuk terus mempelajari dan menghargai keberagaman budaya,” ungkapnya.

Setelah sesi pemaparan, para mahasiswa diajak untuk menyaksikan langsung pementasan Jaranan yang dipersembahkan oleh BN Setaloka Hiprejs Jatim, sanggar seni yang diketuai oleh Tri Suryanto. Gerakan lincah para penari, iringan gamelan yang merdu, serta topeng-topeng yang unik berhasil memukau para penonton. Tidak hanya itu, mereka juga berkesempatan untuk mencoba menari Jaranan dan memainkan gamelan secara langsung.
Aan, salah satu mahasiswa asal Vietnam, mengungkapkan kekagumannya terhadap pertunjukan tersebut. “Saya sangat terkesan dengan keindahan dan energi yang terpancar dari tarian Jaranan. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” ujarnya.
Acara ini terselenggara berkat kolaborasi antara Airlangga Summer School dan Cultural Odyssey. Cultural Odyssey, berbasis di Surabaya, merupakan penyedia aktivitas budaya di Jawa Timur. Dengan tim yang terdiri dari berbagai latar belakang, seperti Dhahana Adi dari Wisma Jerman, Probo Darono sebagai dosen FISIP Unair, Andreanto Surya Putra sebagai pegiat budaya, dan Achmad Muzakky sebagai Pengurus Lesbumi NU, Cultural Odyssey berhasil menghadirkan konsep wisata budaya yang dinamis dan partisipatif.

Melalui acara ini, Cultural Odyssey memperkenalkan alternatif wisata yang berbeda, di mana wisatawan tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga terlibat aktif dalam aktivitas kebudayaan yang ada di wilayah tertentu, seperti Surabaya. Inisiatif ini diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif dalam mempromosikan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia internasional.
Kegiatan ini menjadi momen berharga dalam rangkaian Airlangga Summer School, sekaligus mempererat hubungan antarbangsa melalui pemahaman dan penghargaan terhadap kekayaan budaya Indonesia. [but]






